Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

11 Siswa Tunanetra di MTS Yektunis Terkendala Soal Braille

Senin 22 Apr 2019 15:11 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Mesin cetak braille di SLBN A Kota Bandung, Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

Mesin cetak braille di SLBN A Kota Bandung, Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

Foto: Republika/Hartifiany Praisra
Soal UNBK 11 tunanetra MTS Yektunis terpaksa dibacakan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA— Belasan peserta UN berkebutuhan khusus tunanetra, di MTs Yaketunis Yogyakarta, tidak bisa mengerjakan soal secara mandiri karena tidak ada soal braille yang datang sehingga soal ujian terpaksa dibacakan pendamping.

Baca Juga

“Kami sudah mengajukan data terkait jumlah siswa yang membutuhkan soal braille. Data kebutuhan siswa sudah masuk pusat, tetapi sampai Sabtu (20/4), kami baru mendapat kepastian tidak ada soal braille yang disiapkan,” kata Kepala MTs Yaketunis Yogyakarta Dania Mustikawati di Yogyakarta, Senin (22/4).

Dia menjelaskan, di MTs Yaketunis Yogyakarta terdapat 12 siswa yang mengikuti UN, namun hanya 11 siswa yang diajukan untuk kebutuhan soal braille, sedangkan satu siswa lain memilih mengerjakan ujian dengan ukuran huruf yang diperbesar.

Setelah memperoleh kepastian tidak ada soal braille yang datang, maka MTs Yaketunis memiliki dua pilihan yaitu menunggu soal braille, namun pelaksanaan UN diundur hingga 30 April, atau melaksanakan sesuai jadwal namun dengan dibacakan.

“Kami memilih opsi kedua yaitu soal dibacakan. Ada 12 relawan yang membantu membacakan soal. Mereka adalah mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Negeri Yogyakarta,” katanya.

Pilihan untuk melaksanakan UN sesuai jadwal, lanjut Dania, juga disebabkan untuk menjaga kondisi psikologis siswa yang sudah bersiap melaksanakan ujian sesuai jadwal yaitu pada Senin (22/4) hingga Kamis (25/4).

Di MTs Yaketunis, ujian dilaksanakan di tiga ruangan. Satu ruangan berisi enam siswa, dan dua ruangan lain masing-masing berisi tiga siswa.

“Semula kami hanya menyiapkan satu ruangan karena berharap ada soal braille. Tetapi kalau dibacakan semua dalam satu ruang, tentu akan sangat ramai dan siswa tidak bisa konsentrasi sehingga dipecah dalam tiga ruang,” katanya.

Sejumlah siswa MTs Yaketunis, Muhammad Akbar, Muhammad Royyan A dan Shella Tri Astuti mengatakan lebih senang jika mengerjakan soal dengan braille dari pada dibacakan. 

”Awalnya berharap bisa mengerjakan sendiri. Tetapi karena dibacakan menjadi lebih sulit karena bacaan untuk soal bahasa Indonesia cukup panjang. Beberapa kali harus diulang,” kata Royyan. 

Mereka merasa cukup khawatir saat harus mengerjakan ujian untuk mata pelajaran matematika jika dibacakan. “Harus benar-benar bisa memahami soal yang dibacakan dan mengerjakannya,” kata Shella.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Budi Asrori, mengatakan UNBK di Kota Yogyakarta berjalan dengan lancar dan baik meskipun sempat terkendala koneksi tetapi bisa langsung diatasi.

“Kami belum menerima laporan untuk jumlah siswa yang tidak bisa mengikuti ujian pada hari pertama. Mereka bisa mengikuti ujian susulan pekan depan,”  katanya.

Di Kota Yogyakarta terdapat 8.003 peserta UNBK. Seluruh SMP negeri sudah menyelenggarakan secara mandiri, dengan delapan SMP swasta menggabung ke SMP negeri terdekat. UNBK SMP dilaksanakan dalam dua sesi.

Sedangkan untuk USBN SD, diikuti 7.346 siswa yang tersebar di 116 sekolah. “Kami berharap bisa memperoleh nilai optimal untuk UN SMP dan USBN SD,” katanya.  

 

 

 

YOGYAKARTA— Belasan peserta UN berkebutuhan khusus tunanetra, di MTs Yaketunis Yogyakarta, tidak bisa mengerjakan soal secara mandiri karena tidak ada soal braille yang datang sehingga soal ujian terpaksa dibacakan oleh pendamping.

“Kami sudah mengajukan data terkait jumlah siswa yang membutuhkan soal braille. Data kebutuhan siswa sudah masuk pusat, tetapi sampai Sabtu (20/4), kami baru mendapat kepastian tidak ada soal braille yang disiapkan,” kata Kepala MTs Yaketunis Yogyakarta Dania Mustikawati di Yogyakarta, Senin (22/4).

Dia menjelaskan, di MTs Yaketunis Yogyakarta terdapat 12 siswa yang mengikuti UN, namun hanya 11 siswa yang diajukan untuk kebutuhan soal braille, sedangkan satu siswa lain memilih mengerjakan ujian dengan ukuran huruf yang diperbesar.

Setelah memperoleh kepastian tidak ada soal braille yang datang, maka MTs Yaketunis memiliki dua pilihan yaitu menunggu soal braille, namun pelaksanaan UN diundur hingga 30 April, atau melaksanakan sesuai jadwal namun dengan dibacakan.

“Kami memilih opsi kedua yaitu soal dibacakan. Ada 12 relawan yang membantu membacakan soal. Mereka adalah mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Universitas Negeri Yogyakarta,” katanya.

Pilihan untuk melaksanakan UN sesuai jadwal, lanjut Dania, juga disebabkan untuk menjaga kondisi psikologis siswa yang sudah bersiap melaksanakan ujian sesuai jadwal yaitu pada Senin (22/4) hingga Kamis (25/4).

Di MTs Yaketunis, ujian dilaksanakan di tiga ruangan. Satu ruangan berisi enam siswa, dan dua ruangan lain masing-masing berisi tiga siswa.

“Semula kami hanya menyiapkan satu ruangan karena berharap ada soal braille. Tetapi kalau dibacakan semua dalam satu ruang, tentu akan sangat ramai dan siswa tidak bisa konsentrasi sehingga dipecah dalam tiga ruang,” katanya.

Sejumlah siswa MTs Yaketunis, Muhammad Akbar, Muhammad Royyan A dan Shella Tri Astuti mengatakan lebih senang jika mengerjakan soal dengan braille dari pada dibacakan. 

”Awalnya berharap bisa mengerjakan sendiri. Tetapi karena dibacakan menjadi lebih sulit karena bacaan untuk soal bahasa Indonesia cukup panjang. Beberapa kali harus diulang,” kata Royyan. 

Mereka merasa cukup khawatir saat harus mengerjakan ujian untuk mata pelajaran matematika jika dibacakan. “Harus benar-benar bisa memahami soal yang dibacakan dan mengerjakannya,” kata Shella.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Budi Asrori, mengatakan UNBK di Kota Yogyakarta berjalan dengan lancar dan baik meskipun sempat terkendala koneksi tetapi bisa langsung diatasi.

“Kami belum menerima laporan untuk jumlah siswa yang tidak bisa mengikuti ujian pada hari pertama. Mereka bisa mengikuti ujian susulan pekan depan,”  katanya.

Di Kota Yogyakarta terdapat 8.003 peserta UNBK. Seluruh SMP negeri sudah menyelenggarakan secara mandiri, dengan delapan SMP swasta menggabung ke SMP negeri terdekat. UNBK SMP dilaksanakan dalam dua sesi.

Sedangkan untuk USBN SD, diikuti 7.346 siswa yang tersebar di 116 sekolah. “Kami berharap bisa memperoleh nilai optimal untuk UN SMP dan USBN SD,” katanya.  

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA