Senin, 22 Ramadhan 1440 / 27 Mei 2019

Senin, 22 Ramadhan 1440 / 27 Mei 2019

Maarif: Pendidikan Multikulturalisme Tangkal Intoleransi

Senin 25 Mar 2019 15:49 WIB

Red: Ratna Puspita

Tokoh islam dan Guru Bangsa Buya Ahmad Syafii Maarif.

Tokoh islam dan Guru Bangsa Buya Ahmad Syafii Maarif.

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Virus intoleransi berpotensi menjangkiti para siswa di sekolah.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, meminta para guru atau pendidik menggencarkan penanaman pendidikan multikulturalisme untuk menangkal bibit-bibit virus intoleransi. Virus intoleransi berpotensi menjangkiti para siswa di sekolah.

"Pendidikan multikulturalisme semakin penting dalam era ini, tekankan terus agar tidak mengkhianati sumpah pemuda karena virus intoleransi itu muncul karena mungkin ada rantai pendidikan yang terputus," katanya di sela Pelatihan Pengawas Sekolah Program memperkuat Peran Auditor dan Pengawas Sekolah dalam Mempromosikan Toleransi dan Mulikulturalisme di Yogyakarta, Senin (25/3).

Baca Juga

Buya sapaan akrab Ahmad Syafii Maarif itu mengatakan, virus intoleransi yang merusak sendi-sendi kebinekaan terbukti bisa merasuk di berbagai lini termasuk lembaga pendidikan seperti sekolah. "Contoh kecilnya, kalau ada seorang murid di sekolah itu sudah merasa tidak nyaman bersama dengan murid lain yang berbeda agama dengannya," kata anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini.

Menurut Buya, perlahan namun pasti virus intoleransi yang masih ada hingga saat ini berpotensi memisahkan nilai-nilai Kebhinekaan dari Bangsa Indonesia. Kendati demikian, ia menyakini virus intoleransi itu masih bisa diantisipasi dan diatasi.

Karena itu itu, perlu langkah untuk menangkal virus intoleransi yang kebanyakan berasal dari ideologi transnasional itu. Langkah tersebut, menurut dia, pendidikan multikulturasime perlu terus ditekankan oleh para pendidik di sekolah untuk menyelamatkan bangsa.

Buya mengapresiasi para guru atau pendidik yang hingga kini konsisten memberangus virus intoleransi di sekolah. "Bangsa ini memang plural, itu sebuah keniscayaan yang harus diakui, jadi jangan sampai virus itu dipakai untuk merusak kebangsaan," kata Buya Syafii.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA