Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Implementasi Pendidikan Karakter Dinilai Belum Optimal

Kamis 26 Jul 2018 10:40 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Esthi Maharani

Anang Hermansyah

Anang Hermansyah

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Perpres tentang Penguatan Pendidikan Karakter hanya bagus di atas kertas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah menegaskan, tragedi tewasnya anak kelas 6 SD akibat perkelahian di Kabupaten Garut harus dijadikan momentum pembenahan secara menyeluruh peraturan di sektor anak. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pun dinilai belum cukup berhasil direalisasikan oleh pemerintah.

"Perpres tersebut hanya bagus di atas kertas, namun implementasi di lapangan belum berjalan," kata Anang saat dihubungi Republika, Rabu (25/7).

Anang menegaskan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga semestinya secara tegas menjalankan Perpres tersebut dengan berkoordinasi dengan Pemerintah daerah. Sehingga amanat yang tertuang dalam Perpres tersebut bisa tersosialisasikan dan terealisasikan secara merata di seluruh Indonesia.

Selain itu, lanjut Anang, orang tua dan guru pun harus lebih intens mengawal proses tumbuh kembang anak-anak khususnya di usia sekolah dasar dan menengah. Tontonan televisi juga harus dipastikan tidak berisi aksi kekerasan yang memicu anak-anak yang menonton menirunya.

"Gim online melalui gadget harus terbebas dari paparan permainan yang berisi kekerasan. Kementerian Komunikasi dan Informatika harus mensterilkan ranah digital kita agar pro terhadap tumbuh kembang anak yang baik," imbau Anang.

Dia juga meminta, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan melakukan langkah besar terkait persoalan yang terjadi di Garut ini. Koordinasi antarinstansi kementerian dan lembaga harus mampu membuat peta jalan untuk memastikan masa tumbuh kembang anak-anak kita berjalan dengan baik.

"Peristiwa di Garut sungguh menyesakkan dada. Apalagi pemicunya soal sepele, gara-gara kehilangan buku. Peristiwa ini harus menjadi alarm bagi kita semua tentang persoalan mentalitas anak-anak kita," kata Anang.

Sebelumya, seorang siswa kelas 6 SD di Kabupaten Garut berinisial FNM (12 tahun) tewas dengan luka sabetan benda tajam. FNM diduga tewas setelah berkelahi dengan teman sekelasnya.

"Jadi HKM ini kehilangan buku kemudian keesokan harinya (Sabtu 21/7) buku yang hilang tersebut ada di bawah meja belajar FNM. Selepas pulang sekolah, HKM menuduh jika FNM yang mencuri bukunya sehingga menimbulkan pertikaian dan berujung kematian FNM," kata Kapolsek Cikajang AKP Cecep Bambang kepada wartawan, Selasa (24/7).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA