Rabu, 4 Zulhijjah 1439 / 15 Agustus 2018

Rabu, 4 Zulhijjah 1439 / 15 Agustus 2018

Perguruan Tinggi Harus Bisa Siapkan Generasi Penerus Bangsa

Rabu 25 Juli 2018 15:18 WIB

Red: Fernan Rahadi

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Suhardi Alius memberikan paparannya saat wawancara di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (22/6).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Suhardi Alius memberikan paparannya saat wawancara di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (22/6).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Generasi muda diminta waspada dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak jelas.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Perguruan Tinggi adalah tonggak untuk mempersiapkan para generasi muda untuk dapat mencapai masa depan Indonesia ke depan. Untuk itu Perguruan Tinggi harus dapat mendidik calon generasi penerus bangsa dan juga harus dapat melindungi para generasi muda agar tidak mudah terpengaruh paham radikalisme yang mengarah kepada tindakan terorisme.

“Kita berkepentingan betul untuk seluruh mahasiswa. Karena mahasiswa ini akan  menjadi generasi penerus bangsa Indonesia sehingga harus betul-betul kita siapkan mereka dengan baik. Jangan sampai karena ‘nila setitik, rusak susu sebelanga’ karena hal-hal yang salah dari yang dia dapatkan,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius  saat memberikan kuliah umum dihadapan sekitar 600 orang yang terdiri dari para Rektor /Pengelola Perguruan Tinggi di Jawa Timur, Mahasiswa beserta civitas akademika di lingkungan kampus Bela Negara, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Jawa Timur, Selasa (24/7).

Untuk itu menurut Kepala BNPT, di  kuliah umum tersebut dirinya menyampaikan materi-materi yang betul-betul sangat mendasar yang harus dipahami dengan baik untuk para tenaga pendidik,  semua civitas akademika, termasuk ke dosen dosennya dan juga kepada mahasiswanya khususnya terkait masalah penyebaran paham radikal yang mengarah kepada terorisme.

“Harus kita pahami pula bahwa radikal yang kami maksud disini adalah yang berkonotasi negatif yaitu intoleransi, anti Pancasila, anti NKRI dan penyebaran paham-paham takfiri. Untuk itu tadi kita sampaikan bagaimana trik-trik atau  cara-cara untuk menghindari hal-hal yang tidak baik unruk bangsa ini,” ujar mantan Kabareskrim Polri ini.

Kepala BNPT menjelaskan bahwa dirinya memberikan suatu  pencerahan yakni terkait masalah kebangsaan  Karena masalah kebangsaan ini menjadi dasar yang telah tereduksi. Dirinya ingin memompa kembali semangat nasionalisme, kerekatan untuk saling bersinergi dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

“Tadi kami  uraikan fakta-fakta lengkap yakni tentang bagaimana fenomena global, regional, nasional yang menjadi tantangan kita. Kita berikan challenge bagaimana terapi yang pas, bagaimana generasi muda penerus yang akan memimpin bangsa di masa depan ini punya kemampuan  memilah dan memilih informasi yang masuk,’

Alumni Akpol tahun 1985 ini mengungkapkan bahwa apa yang disampaikannya ini juga merupakan upaya untuk membentengi lingkungan perguruan tinggi dari upaya-upaya penyebaran paham-paham radikal yang berkonotasi negatif tersebut. Tak hanya itu, di tengah perkembangan tekhnologi informasi yang berkembang begitu pesat generasi muda diminta untuk waspada dan jangan mudah terpengaruh dengan informasi yang belum tentu benar sumbernya.

“Kami ingin mereka punya daya tahan terhadap segala informasi yang berkembang. Kalau dulu mungkin hitungan waktu sekian lama, tetapi  sekarang hitungan detik sudah bisa terekspose segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Oleh sebab itu kemampuan untuk memilah dan memilih segala informasi yang masuk itu sangat dibutuhkan oleh setiap insan anak bangsa ini,” ujarnya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pentas Seniman Bandung Peduli Lombok

Selasa , 14 Agustus 2018, 23:59 WIB