Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Siswa Madrasah Pamerkan Robot di Festival Sains Amerika

Senin 09 Apr 2018 15:17 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah

Dua siswa dari Tim Robotik Madrasah TechnoNatura Depok Ahmad Hisyam Wahono (kiri) dan Raditya Atalla Rafi (17). Mereka kan memamerkan karya robot mereka dalam festival sains di AS.

Dua siswa dari Tim Robotik Madrasah TechnoNatura Depok Ahmad Hisyam Wahono (kiri) dan Raditya Atalla Rafi (17). Mereka kan memamerkan karya robot mereka dalam festival sains di AS.

Foto: Republika/Muhyiddin
Siswa madrasah juga dapat bersaing dalam bidang sains dan teknologi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dua siswa dari Tim Robotik Madrasah TechnoNatura Depok berkunjung ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag) pada Rabu (4/4). Kedua siswa tersebut, Ahmad Hisyam Wahono (15 tahun) dan Raditya Atalla Rafi (17) akan memamerkan karya robot mereka dalam festival sains di Amerika Serikat atau USA Science and Engineering Festival (USA-SEF) 2018.

USA-SEF merupakan festival sains yang menampilkan lebih dari 3.000 eksebisi sains yang dikemas dalam pertunjukan menyenangkan. Ahad (8/4) kemarin, kedua siswa berprestasi tersebut telah berada di Amerika Serikat dengan ditemani Kepala Sekolah Madrasah Aliyah TechnoNatura, Rustamaji dan Direktur Madrasah TechnoNatura, Riza Wahono.

Sebelum berangkat ke Amerika pada Kamis (5/54), Hisyam dan Radit sempat berbincang dengan Republika.co.id di Kantor Kemenag. Keduanya merasa bangga diundang KBRI di Amerika untuk memamerkan robotnya yang diberi nama Robot Wowwy.

Radit yang menjadi pemimpin tim robotik tersebut, mengatakan sekolahnya selama ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu sains. Karena itu, Radit akhirnya bisa membuat Robot Wowwy bersama teman-temannya.

"Saya bersyukur mendapatkan kesempatan di Amerika ini. Saya harap madrasah ini ke depannya juga lebih dapat perhatian dari orang-orang Indonesia sebagai lembaga yang membuat siswa berilmu dan beragama," ujar Radit saat berbincang dengan Republika.co.id.

Dari seluruh sekolah di Indonesia, hanya Madrasah TechnoNatura yang mendapat undangan untuk menampilkan karyanya dalam pameran tersebut. Dengan mengikuti festival sains itu, Radit ingin membuktikan kepada dunia madrasah juga dapat bersaing dalam bidang sains dan teknologi.

"Jadi di madrasah kami banyak diajarkan fisika, matematika, dan ilmu coding, tapi kalau saya kebanyakan diajarin coding sama matematika. Saya bikin kode robotnya buat jalan," ucapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Madrasah Aliyah TechnoNatura, Rustamaji menjelaskan bahwa kedua siswa tersebut berkesempatan ke Amerika karena pada tahun 2017 lalu berhasil meraih medali perak di kompetisi robotik internasional, First Global Challenge di Washington, DC, Amerika Serikat.

"Kebetulan tahun lalu kami menang juara dua lomba Robotik di Amerika itu. Jadi kita diminta untuk hadir juga untuk menampilkan robot kita sekaligus sistem pembelajaran di Madrasah kita," kata Rustamaji.

Menurut Rustamaji, pameran ini berlangsung selama tiga hari mulai Jumat (6/4) sampai Ahad (8/4) hari ini. Menurut dia, pihaknya datang kepada Kementerian Agama karena telah mendukungnya selama ini. "Kementerian agama mensupport kita untuk berangkat ke sana untuk menampilkan hasil karya anak-anak Madrasah siswa kita Radit dan Hisyan kelas XII MA," jelasnya.

Dengan melihat prestasi kedua siswanya tersebut, Rustamaji berharap madrasah-madrasah lainnya di seluruh Indonesia juga turut mempelajari teknologi, sehingga madrasah tidak kalah saing dengan sekolah-sekolah. "Mudah-mudahan begitu balik dari Amerika, kita bisa sharing dengan madarasah-madrasah lainnya bagaimana konsep pembelajaran kita," kata Rustamaji.

Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Ahmad Umar mengatakan bahwa pihaknya mendukung penuh atas prestasi yang telah diraih siswa madrasah TechnoNatura. Karena, menurut dia, pada tahun lalu siswa tersebut menjuarai robot inovatif dari 150 negara.

"Kami memberikan dukungan kepada kawan-kawan siswa maupun guru madrasah ini membuktikan bahwa agama tidak ahli dengan teknologi. Ini harus dipegang teguh. Semangat inilah yang kita teguhkan," jelas Umar.

n/Muhyiddin

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA