Tuesday, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 February 2019

Tuesday, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 February 2019

Kampus Asing Masuk RI, Menteri Bambang: Bisa Hasilkan Devisa

Rabu 21 Mar 2018 14:10 WIB

Red: Nur Aini

Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro memberikan keterangan pers terkait rapat paripurna di Istana Negara, Senin (2/12).

Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro memberikan keterangan pers terkait rapat paripurna di Istana Negara, Senin (2/12).

Foto: Republika/Debbie Sutrisno
Kualitas universitas dalam negeri diharapkan meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan devisa bisa masuk jika perguruan tinggi atau kampus asing dari luar negeri diizinkan masuk ke Indonesia.

"Sekarang begini deh, pernah tidak dihitung berapa besar devisa kita itu, mahasiswa kita yang mampu sekolah di luar negeri, itu sangat besar kok. Padahal kita bicara devisa, kita ingin selain ada yang keluar kita juga ingin yang masuk," kata Bambang usai membuka Forum Konsultasi Publik di Jakarta, Rabu (21/3).

Wacana perguruan tinggi dari luar negeri diizinkan masuk ke Indonesia diinisiasi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) sebagai upaya meningkatkan persaingan di antara perguruan-perguruan tinggi di Tanah Air. Presiden Joko Widodo mengatakan memahami hal tersebut tetapi meminta sebelum hal itu dilakukan agar Menristekdikti M Nasir terlebih dulu berbicara dengan para rektor di Tanah Air, baik rektor perguruan tinggi negeri maupun swasta.

"Semuanya diajak bicara dulu. Kalau tanpa diberi kompetitor sudah berubah ya nggak usah. Tapi kalau kita tunggu nggak berubah-ubah, ya kita beri," kata Presiden Jokowi saat membuka Konferensi Forum Rektor Indonesia (FRI) 2018, di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (15/2).

Menurut Bambang, untuk mengurangi banyaknya devisa keluar karena mahasiswa kuliah di luar negeri, peningkatan kualitas perguruan tinggi di dalam negeri adalah hal mutlak. Namun, tentunya hal tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat.

"Kalau bisa yang keluar itu bisa ditahan, salah satunya dengan pendidikan berkualitas. Kalau di dalam negeri kan butuh waktu. Solusinya untuk memperketat, kerja sama dnegan perguruan tinggi dari luar negeri," ujar Bambang.

Presiden Jokowi sebelumnya juga sempat mengingatkan, tidak semua universitas perlu menjadi berkelas dunia atau 'world class'. Namun, ia menilai semua universitas perlu menjadi relevan, perlu berkontribusi kepada masyarakat dan sekitarnya.

Ia memberi contoh sebuah universitas yang berdiri di daerah pesisir atau kepulauan bisa memberikan nilai lebih atas keberadaan pantai atau laut di daerahnya. Hal itu melalui inovasi pembudidayaan ikan, pengolahan hasil hasil laut, pelestarian budaya bahari, dan lainnya.

Begitu juga dengan universitas yang berada di daerah pertanian. Menurut Presiden, perlu inovasi pengelolaan lahan yang efektif dan efisien, teknologi peningkatan hasil peternakan dan industri, pengolahan penyediaan air dan energi yang efisien dan inovatif, dan masih banyak lagi.

Bagi perguruan tinggi yang besar yang sudah masuk dalam arena kompetisi global, Presiden Jokowi meminta agar mampu bersaing memenangkan kompetisi global. Selain itu, ia meminta kampus mengembangkan program studi atau departemen atau fakultas baru yang inovatif yang memanfaatkan peluang lanskap ekonomi global.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA