Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Senin, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Grand Final Lomba Budaya Mutu SD 2017 Dibuka

Rabu 08 Nov 2017 19:04 WIB

Red: Irwan Kelana

Suasana pembukaan Grand Final Lomba Budaya Mutu Sekolah Dasar 2017 dan Lomba Penulisan Artikel Ilmiah, di Jogjakarta, Rabu (8/11).

Suasana pembukaan Grand Final Lomba Budaya Mutu Sekolah Dasar 2017 dan Lomba Penulisan Artikel Ilmiah, di Jogjakarta, Rabu (8/11).

Foto: Dok SDT BIL

REPUBLIKA.CO.ID, JOGJAKARTA – Direktur  Jenderal (Dirjen) Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhammad PhD secara resmi membuka perhelatan Grand Final Lomba Budaya Mutu Sekolah Dasar 2017 dan Lomba Penulisan Artikel Ilmiah, Rabu (8/11) di Imperial Ballroom, The Rich Jogja Hotel, Jogjakarta, Rabu (8/11). Kegiatan yang berlangsung selama empat hari,  7-10 Nopember 2017 itu mengundang 217 SD se-Indonesia dan 65 Finalis Lomba Penulisan Artikel Ilmiah.

Yang menarik, seluruh peserta mengenakan busana daerah masing-masing pada acara pembukaan. Rombongan Dirjen Dikdasmen yang tiba di ruang acara langsung disambut Tari Pucuk Lampah dan juga disuguhkan beragam sendra tari yang dibawakan pelajar SD dari beberapa sekolah di Yogjakarta di antaranya, Tari Selamat Datang dari SDN Pengkol Gedean, Blarak Sempal oleh SDN Sinduadi I Mlati, Tari Srawung dari SDN Percobaan Sleman. Mendongeng SDN Model Sleman dan Langen Carito 'Ajisaka' dari SDN Glagah Harjo, Cangkringan, dan ditutup dengan solo vokal dari SD Marsudirini.

Hamid Muhammad mengatakan persoalan mutu pendidikan yang paling krusial. ''Sekolah dasar yang perlu kita benahi karena SD adalah dasar atau pondasi untuk jenjang pendidikan selanjutnya di samping PAUD,” ujarnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (8/11).

Hamid bersama jajarannya bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan rumah masalah mutu pendidikan mulai dari tiap sekolah. ''Ada anak-anak kita di SD yang sampai sekarang kelas rendah yang seharusnya bisa membaca dan menulis tapi masih ada yang tidak bisa. Ini sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya.

Maka itu, melalui lomba budaya mutu yang dimulai sejak 2014, Hamid berpesan kepada 217 kepala sekolah yang menjadi finalis untuk menitipkan tiga hal dalam meningkatkan mutu pendidikan di SD. Pertama, pondasi pendidikan adalah karakter moral.

''Jadi kita tidak saja semata-mata membuat anak pintar, cerdas, menang ini, menang itu. Itu memang penting,  tapi yang paling penting pondasi itu karakter atau akhlak mulia, budi pekerti. Tanpa karakter yang baik pendidikan kita tidak mencapai target yang kita harapkan,” ujarnya.

Kedua, karekter kinerja. ''Jangan bikin anak-anak kita lembek. Dia harus tangguh, dia harus punya cita-cita yang tinggi. Dorong anak-anak untuk memiliki cita-cita setinggi langit. Dan ini tugas sekolah untuk membina karakter itu,'' tuturnya.

Ketiga,  karakter kebangsaan. ''Indonesia ada karena itu diciptakan oleh kelompok-kelompok yang berbeda. Ini harus dirawat jangan sampai benih-benih perpecahan kebangsaan itu justeru disemai di SD. Cek betul bahan-bahan bacaan anak, pelajaran yang mengarah kepada perpecahan bangsa itu harus kita singkirkan,” ujarnya.

Ia menambahkan,  “Ajari anak-anak untuk bisa hidup bersama-sama dalam perbedaan. Nasionalisme itu tidak bisa ditawar, rekatkan terus yang namanya nasionalisme. Tetapi karakter yang paling utama adalah kejujuran dan mengajarkan karakter kepada anak itu bukan hanya diajarkan, tetapi diberi contoh, dibiasakan, dilatih dan dibudayakan.''

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar, Drs Wawan Widaryat, MSi  dalam sambutannya menjelaskan materi penilaian Lomba Budaya Mutu di sekolah dasar mencakup beberapa aspek, termasuk menejemen, pembelajaran dan ekstrakurikuler. ''Penilaian dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu praseleksi, visitasi, dan grand final melalui presentasi dan wawancara. grand final merupakan penilaian tahap terakhir untuk menetapkan kejuaraan lomba budaya mutu di sekolah dasar,'' tandasnya.

Selanjutnya, Wawan menjelaskan,  untuk mewujudkan sekolah berbudaya mutu ada beberapa faktor penting yang perlu mendapat perhatian. ''Perencanaan yang terukur, pengorganisasian yang jelas, pelaksanaan yang efektif dan efisien, dan melakukan monitoring serta evaluasi kemajuan secara berkelanjutan,'' ungkapnya.

Untuk mewujudkan budaya mutu di sekolah tersebut, Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar telah melaksanakan berbagai program peningkatan budaya mutu baik melalui penguatan pembelajaran yang bermutu, panataan manajemen sekolah, program pendidikan karakter, program sekolah bersih dan sehat, program optimalisasi kinerja perpustakaan dan berbagai program lainnya.

''Direktorat juga telah melaksanakan berbagai jenis lomba sebagai bentuk apresiasi pada sekolah-sekolah yang berhasil, seperti lomba Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), sekolah dasar bersih dan sehat dan sebagainya,” tuturnya.

Grand Final Lomba Budaya Mutu Sekolah Dasar tahun ini diikuti 217 sekolah dari seluruh Indonesia yang terdiri dari tiga kategori:  SD rujukan sebanyak 175 sekolah, SD Negeri Rintisan PPK (penguatan pendidikan karakter) sebanyak 21 sekolah dan SD Swasta rintisan PPK sebanyak 21 sekolah.

Sementara untuk lomba penulisan artikel ilmiah jumlah peserta sebanyak 65 orang. Mereka  terdiri dari 25 orang penulis artikel ilmiah populer, 25 orang finalis feature sekolah dasar dan 10 orang finalis artikel siswa sekolah dasar.

Kepala SD Islam As Shofa Pekanbaru, Riau, Kamil Malano, yang menjadi finalis LBM 2017, mengatakan sekolah yang dipimpinnya sangat mengedepankan mutu dan penanaman nilai-nilai karakter sejak didirikan. ''SD Islam As Shofa sekarang ini yang kita galakkan pendidikan karakter sesuai dengan status sekolah pilot proyek PPK Kemendikbud. Namun begitu, pendidikan karakter sudah kami jalankan sejak As Shofa berdiri,'' kata Kamil.

Untuk melaksanakan pendidikan karakter, sambung Kamil, pihaknya harus melaksanakan tri pusat pendidikan. ''Kita tidak bisa bekerja sendiri dan sekolah harus merangkul orang tua siswa dan juga kita harus merangkul masyarakat. Untuk itu dalam menggenjot mutu dan penguatan nilai-nilai karekter kami lebih banyak intensitasnya bertemu dengan wali murid, lebih sering bertemu dengan ketua komite dan membuat acara-acara di sekolah yang membuat orang tua datang ke sekolah.

Kamil yang didampingi rekan kerjanya, Abdul Rahman yang bertugas sebagai guru merasa optimistis sekolah yang dibinanya bisa meraih yang terbaik dengan memiliki program-program unggulan yang dikemas dengan pelibatan berbagai pihak terutama orang tua.

''Kita ada kegiatan sehari bersama orang tua. Jadi, orang tua seharian di sekolah, mereka mengajar mulai dari membariskan anak pagi-pagi membaca doa kemudian masuk ke kelas kemudian melihat pembelajaran di kelas, kalau guru ada berarti mereka menjadi asistennya. Kita juga memberikan kesempatan orang tua murid untuk mengajar sesuai dengan keahliannya masing-masing. Yang profesinya dokter tentang kesehatan,'' papar Kamil.

Kepala SDN Sungai Taim Kota Baru Kalimantan Selatan, Ida Maryana, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya karena sekolahnya terpilih menjadi finalis lomba budaya mutu. ''Alhamdulillah saya bersyukur bisa berdiri di sini,'' ucap Ida.

Ida yang sudah 12 tahun menjadi kepala sekolah ingin memberikan semangat kerja yang tinggi kepada guru guru di sekolahnya untuk menciptakan pendidikan bermutu. ''Saya ingin memotivasi teman-teman di sana bahwa rezeki itu tidak akan datang kalau tidak kita raih dengan usaha. Jadi usaha kami selama ini mendidik murid membuahkan hasil dengan bisa diundang ke Jogja. Kalau dengan biaya sendiri, saya tidak akan mampu,” tuturnyAa.

Adapun keunggulan yang ada di sekolah SDN Sungai Taim pada kegiatan ekstrakurikuler. ''Sebenarnya keunggulan di sekolah kami banyak, yang jelas kegiatan ekstrakurikuler yang menonjol. Karena sekolah kami adalah sekolah inklusi yang menerima anak berkebutuhan khusus kami arahkan sesuai dengan kemampuannya mereka punya potensi untuk itu,'' papar Ida.

Dari total murid 302 orang, ada murid yang berkebutuhan khusus sebanyak 18 orang dan mereka belajar klasikal tidak diskriminasi. ''Kami bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak KPAI Kota Baru. Kami juga bekerja sama dengan BNN, Polres, Dinas Kesehatan, karena kalau sekolah sendiri yang mengelola kami tidak bisa harus bersinergi lintas sektoral sehingga kami bisa berdiri di sini bersama 216 SD se Indonesia,''  ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES