Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Cara Asyik Belajar Toleransi Lewat Program 'Sabang Merauke 2016'

Rabu 31 Aug 2016 06:50 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Adik-adik mengikuti program Sabang Merauke.

Adik-adik mengikuti program Sabang Merauke.

Foto: sabang merauke

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Banyak cara bisa dilakukan untuk belajar toleransi dan keberagaman. Selama hampir tiga pekan ini, sebuah program bertajuk SabangMerauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali) dilaksanakan pertukaran pelajar antar daerah yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai ke-Indonesiaan.

Sebanyak 15 pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) terpilih dari berbagai penjuru Nusantara mengikuti berbagai kegiatan menarik dan bertemu dengan tokoh-tokoh inspiratif. Program ini mempertemukan 15 Adik SabangMerauke (ASM) dengan 15 Kakak SabangMerauke (KSM) dan 15 Famili SabangMerauke (FSM).

Ke-15 ASM yang terpilih dari 1.173 pendaftar tinggal di rumah keluarga angkat selama tiga pekan di area Jabodetabek dan mengikuti serangkaian kegiatan bersama kakak pendamping untuk mengalami makna toleransi, pendidikan dan ke-Indonesiaan seutuhya. Diharapkan, selepas kegiatan ini berakhir dan para Adik SabangMerauke (ASM) pulang ke daerah asalnya, mereka akan menjadi salah satu Duta Toleransi di Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat berdampak besar terhadap Kakak SabangMerauke (KSM) dan Famili SabangMerauke (FSM) dalam memaknai toleransi dan perbedaan.

Selama tiga pekan ini, Adik SabangMerauke (ASM) berkunjung ke tempat-tempat yang berlokasi di daerah Jakarta, seperti Balaikota, Garuda Indonesia Training Center, rumah-rumah ibadah dan juga kampus-kampus di Jakarta.

Managing Director SabangMerauke 2016, Irma Sela Karlina mengatakan program ini digagas pada tahun 2012 lalu. ”Yang berbeda dari tahun sebelumnya adalah, perpanjangan waktu program dari yang sebelumnya hanya 2 minggu, tahun ini diperpanjang menjadi 3 minggu,” kata Irma.

Irma berharap dengan perpanjangan waktu program, interaksi antar FSM, KSM, dan ASM akan lebih kuat. Dengan begitu, nilai-nilai toleransi, pendidikan dan keindonesiaan yang ingin ditanamkan bisa lebih kuat diresapi oleh adik-adik SabangMerauke. Ketika para Adik SabangMerauke kembali ke daerah asalnya mereka akan bisa menyebarkan nilai-nilai tersebut di lingkungan sekitarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA