Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah

Kamis 31 Mar 2016 16:53 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Anies Baswedan

Anies Baswedan

Foto: ROL/Fian Firatmaja

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyatakan minat membaca masyarakat sangat rendah, karena berdasarkan 61 negara di dunia yang memiliki daftar literatur, kedudukan Indonesia berada pada peringkat nomor 60.

"Betapa rendahnya minat membaca masyarakat di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain," kata Baswedan saat pencanangan "Gerakan Indonesia Membaca" di Lebak, Kamis (31/3).

Selama ini, minat membaca di Tanah Air sangat rendah, bahkan terbukti orang yang sudah memiliki panduan buku pedoman, namun mereka tidak membacanya.

Orang Indonesia lebih suka mengobrol dan berdiskusi daripada harus membaca. Kriteria bangsa yang memiliki literatur itu di antaranya memiliki sarana dan prasarana perpustakaan.

Saat ini, Indonesia memiliki perpustakaan di dunia cukup bagus dengan menduduki nomor 35 di atas negara Malaysia, Portugis, Singapore, Jerman, Australia dan Selandia Baru. Namun, pengunjung dan pemanfaatan perpustakaan sedikit sekali dibandingkan dengan negara itu.

Negara lain, kata dia, infrastutur prasaran perpustakaan sedikit, tetapi minat membacanya cukup tinggi. Padahal, sarana perpustakaan tersebut dibangun oleh pemerintah guna mendorong masyarakat gemar membaca.

Bangsa Indonesia hanya lebih senang membuat pelaporan pembangunan perpustakaan itu terserap dana APBD dan APBN dengan baik. Akan tetapi, pelaporan kunjungan dan pemanfaatan masyarakat yang membaca buku itu tidak ada.

Dengan demikian, ujar dia, pihaknya meminta ditingkat minat membaca di perpustakaan baik di sekolah, masyarakat maupun milik pemerintah daerah. Bila perlu di kampung-kampung ada taman bacaan dan manfaatkan taman bacaan maupun perpustakaan itu.

Selain itu juga minat membaca di sekolah-sekolah ditumbuhkan sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) Nomor 23/2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, diantaranya pelajar sebelum mulai belajar diwajibkan membaca selama 15 menit. Kewajiban membaca di kalangan pelajar itu menjadikan bagian penting agar membaca bisa dijadikan pembiasaan.

"Kita berharap masyarakat maupun pelajar memiliki target pembiasaan membaca guna mendorong minat membaca meningkat," katanya.

Ia mengatakan, manfaat membaca itu sebagai literatur dasar yang harus dimiliki, selain literatur kompetensi untuk masa depan dengan berpikir kritis, komunikasi baik juga memikirkan pekerjaan masa depan.

Dengan membaca secara ilmiah akan memiliki pikiran sehat, kedua membaca bisa mengurangi stres, juga memperbanyak kosa kata. "Kami berharap gerakan Indonesia membaca yang dicanangkan di Lebak memberikan efek kepada daerah-daerah lain di Indonesia," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA