Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

Mendorong Minat Studi ke Jerman

Sabtu 14 Dec 2013 10:39 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

fahmi taufiqurrahman , santri pesantren terpadu hayatan thayyibah lulus terbaik di sekolah amerika serikat

fahmi taufiqurrahman , santri pesantren terpadu hayatan thayyibah lulus terbaik di sekolah amerika serikat

Foto: dok.hayatan thayyibah

REPUBLIKA.CO.ID,

Para calon mahasiswa menjalani karantina berbasis pesantren yang ditangani tenaga professional.

SUKABUMI -- Melanjutkan pendidikan ke luar negeri seperti Jerman memang menjadi pilihan menarik apalagi bila dilakukan setelah menjalani pendidikan ketat ala persantren. Hal itu dilakukan lima siswa SMA Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah Kota Sukabumi tujuh tahun silam.

Namun, menurut pimpinan  SMA Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah Kota Sukabumi, Drs Ahmad Dzaki MA, tahun ini mulai dibuka fasilitas untuk sekolah lain. “Alhamdulillah, responsnya cukup bagus, rencananya tahun ini akan berangkat 20 sampai 30 calon mahasiswa,” kata Dzaki, Senin lalu.

Menurutnya, meningkatnya animo siswa yang ingin belajar ke Jerman tidak terlepas dari peran Hayatan German Center (HGC). HGC adalah sebuah program yang dirancang SMA Pesantren Terpadu Hayatan Thayyibah bekerja sama dengan Aulia on Media (AoM) dan Ikatan Alumni Hayatan Thayyibah Jerman.

“Tujuannya, untuk mempersiapkan para siswa agar bisa melanjutkan studi di Jerman dengan biaya yang terjangkau,” ungkap Ahmad Dzaki kepada Republika.

Menurut alumnus Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur, ini, program tersebut bukan hanya memberangkatkan para calon mahasiswa ke Jerman, melainkan juga membina mental, karakter, dan motivasi para calon mahasiswa untuk belajar di Jerman.

Mereka bisa beradaptasi dengan budaya baru tanpa harus menghilangkan karakteristik sebagai orang Indonesia dengan sistem pembinaan berbasis pesantren.

Keunggulan program ini adalah para calon mahasiswa menjalani karantina berbasis pesantren yang ditangani tenaga profesional, baik dari tenaga asatidz Pesantren Hayatan Thayyibah maupun tenaga profesional lainnya.

Para siswa diajarkan beberapa hal penting yang harus dikuasai, seperti bahasa Jerman, matematika, character building, pembinaan spiritual/keagamaan, mental dan kepribadian, serta tadabur alam.

Selain itu, juga dilakukan bimbingan pengurusan berkas-berkas dan bimbingan satu tahun selama di jerman.

Program tersebut diperuntukkan bagi seluruh alumnus SMA di seluruh nusantara, khususnya alumni Hayatan Thayyibah dengan syarat memiliki SKHUN dan ijazah dengan nilai rata-rata minimal 6,0.

Setiap tahunnya, Hayatan Thayyibah memberangkatkan 20-30 calon mahasiswa ke Jerman. Jumlahnya memang terbatas  dengan harapan agar lebih fokus dalam pembinaannya.

Langkah kecil yang dilakukan Hayatan Thayyibah tersebut adalah untuk melakukan regenerasi agar para calon pengganti generasi tua memiliki kekuatan intelektual dan mental yang tinggi untuk memimpin negeri ini.

Diharapkan, dalam lima hingga 10 tahun yang akan datang, mereka sudah menamatkan studinya di Jerman dan kembali membangun daerahnya masing-masing sesuai dengan keilmuan yang mereka miliki untuk menciptakan suasana lingkungan yang hayatan thayyibah.

Menurut Dzaki, selama calon mahasiswa menjalani karantina di pesantren, ada beberapa bimbingan yang didapatkan.

Di antaranya, pengurusan visa studi di Jerman dan pengurusan uang jaminan, workshop sistem pendidikan, dan sosial budaya.

Selain itu, ada juga konsultasi pemilihan kota untuk studi, konsultasi pemilihan studienkolleg, serta penerjemahan dokumen akademik oleh penerjemah tersumpah.

Pihaknya memberikan mentoring pribadi, pengurusan reservasi tiket pesawat, airport tax, serta pendampingan dari Jakarta menuju Jerman.

Sangat membantu

HGC juga akan menyiapkan pencarian kursus intensif bahasa Jerman di Jerman, pendampingan daftar ulang kursus bahasa Jerman di Jerman, pendampingan aktivasi rekening bank di Jerman, bantuan pembuatan asuransi kesehatan, kartu telepon berlangganan, dan lainnya.

Salah satu syarat penting untuk kuliah di Jerman, yakni save deposit yang harus dimiliki oleh calon mahasiswa yang disimpan di Deutsche Bank atas nama calon mahasiswa sebesar 8.040 euro.

Hal ini dimaksudkan agar calon mahasiswa memiliki sejumlah dana sebagai jaminan hidup minimal selama satu tahun di Jerman.

Sampai saat ini, sudah ada beberapa sekolah yang bergabung dengan Hayatan Thayyibah, yaitu SMA Negeri 3 Kota Sukabumi, SMA Negeri 1 Cianjur, SMA Negeri 1 Tasikmalaya, dan SMA Insan Cendikia Solo.

Muhammad Firhan Arij, siswa kelas XII SMAN 1 Tasikmalaya, Jawa Barat, mengungkapkan kegembiraannya dapat bergabung dengan Hayatan German Center (HGC). “Insya Allah, saya akan melanjutkan pendidikan ke Berlin University,” ujarnya.

Firhan mengaku sangat terbantu dengan kehadiran HGC. Masalah spiritual yang diberikan HGC sangat membantu untuk bekal di Jerman nantinya, terutama dalam menghadapi perubahan budaya. Apa yang didapatkan di HGC, tidak diperoleh di tempat lain.

“Motivasi saya belajar di Jerman ingin mandiri serta melatih mental dan pengalaman yang tidak saya dapatkan di Indonesia,’ ujar Firhan.

Kasi Manajemen dan Kurikulum Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi, Mohammad Hasan Asy’ari MPd, sangat mengapresiasi dan mendukung terbentuknya program HGC.

Program yang semula untuk memfasilitasi para alumnus Hayatan Thayyibah melanjutkan pendidikan ke Jerman, kemudian berkembang untuk para siswa SMA dari berbagai sekolah, menunjukkan kepedulian yang besar dari seorang praktisi pendidikan di Kota Sukabumi. “HGC mempermudah akses dan layanan bagi kelanjutan memperoleh pendidikan yang bermutu,” katanya.

Menurut Asy’ari, HGC membuka pengetahuan dan wawasan para siswa dan para orang tua siswa mengenai sistem pendidikan di negara maju. 

HGC juga memberikan wawasan dan pengetahuan tentang kultur negara Jerman sambil memperkuat karakter calon siswa mampu menyerap kemajuan di Jerman, tanpa harus terbawa gaya hidup yang mungkin tidak sesuai dengan budaya siswanya.

Semoga HGC mampu melahirkan generasi IQRO, yakni keseimbangan kecerdasan intelektual dan kecerdasan rohani atau mampu melahirkan generasi yang memperdalam ilmu Alquran dengan riset dan observasi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA