Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Guru Palsu

Rabu 04 Sep 2013 08:44 WIB

Red: Heri Ruslan

Ijazah Palsu (ilustrasi)

Ijazah Palsu (ilustrasi)

Foto: Radiocirebon

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Asep Sapa'at
(Praktisi Pendidikan, Direktur Sekolah Guru Indonesia)

Guru berijazah palsu, sebuah anomali. Contoh terbaik untuk tidak dicontoh. Karena berijazah palsu, maka itulah guru palsu. Niatnya tak pernah tulus. Ibarat pepatah, ada udang di balik batu. Karena profesi guru dianggap bisa datangkan untung, itulah dasar pengambilan keputusannya, sangat situasional. Yang dia tahu hanya untungnya saja, abai dengan tanggung jawab untuk menjaga kehormatan salah satu profesi mulia di muka bumi ini. Ingat guru palsu,sajak palsu karya Agus R. Sarjono langsung hadir di benak.

‘Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu. Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu.

Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu, sebagian menjadi guru, ilmuan, atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi mereka menghambur ke tengah pembangunan’.

Jika boleh berandai-andai, kita sangat berharap sosok guru tetap otentik meski lingkungan penuh intrik kepalsuan. Sapaan boleh palsu, buku boleh palsu, nilai boleh palsu, rasa hormat boleh palsu, tapi ketika guru menolak amplop palsu dari murid, itulah sikap penuh integritas. Satu sikap bersahaja namun berjuta makna. Guru, benteng terakhir agar pendidikan tak menjadi palsu dan dipalsukan. Guru mendidik dirinya untuk bersikap jujur sekaligus memberikan keteladanan kepada murid agar pegang teguh kebenaran. Itulah cara terbaik mencegah lahirnya generasi palsu di masa mendatang.

Ada beberapa kesalahan yang membuat kehormatan guru tercemar karena kasus ijazah palsu. Kesalahannya sepele, yakni:

Kesalahan ke-1, tak ada kejelasan niat dan tujuan menjadi guru.

Ketika seseorang memutuskan menjadi guru, sadarkah dia bakal turut menentukan masa depan orang lain? Menentukan masa depan, bukankah perkara paling penting dalam kehidupan? Tujuan yang benar mesti diraih melalui cara-cara yang benar pula. Ketidakjelasan tujuanmemutuskan pilihan hidup menjadi guru, itu baru satu hal. Bersikap culas untuk meraih tujuan hidup, itu hal lain. Jika keduanya terjadi, sempurna kerusakannya. Celakanya, virus kerusakannya bisa ditularkan kepada murid-murid dan orang lain. Guru palsu sudah merancang masa depannya sendiri yang rusak dan merusakkan orang lain. Berbahaya, bukan?

Kesalahan ke-2, lahirnya cara berpikir sesat, ijazah adalah segala-galanya dalam hidup.

Ijazah itu benda mati. Karena mati, dia bisa kita rekayasa sesuka hati. Tapi, pemegang ijazah adalah manusia. Makhluk sempurna karena dikaruniai akal. Dia bisa bedakan mana yang benar dan salah. Ijazah itu ya begitu-begitu saja, statis. Tapi, perilaku dan kompetensi guru itu mesti diperbaharui. Kekeliruan terbesar dalam hidup guru adalah mengagung-agungkan kehebatan ijazah dan melupakan pentingnya cara untuk meraih ijazah. Setelah ijazah dimiliki, apakah persoalan hidup selesai? Tidak, justru perjuangan sedang dimulai untuk tunjukkan sikap tanggung jawab dalam hidup. Kontribusi apa yang bisa diberikan untuk pendidikan Indonesia? Bukan, keuntungan apa yang bisa dikeruk selama menjadi guru di Indonesia? Guru palsu bisa dipastikan abai dengan tanggung jawab. Hobinya menuntut hak bahkan tega merampas hak-hak murid, orangtua murid, dan masyarakat.

Kesalahan ke-3, penilaian guru tak berbasis kinerja.

Kita butuh waktu puluhan tahun untuk membangun reputasi yang penuh integritas. Namun, hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk menghancurkannya. Orang berijazah palsu, tanda dirinya tak percaya diri dan tak punya kemampuan mumpuni. Karena malas berpikir dan lemah iman, memalsukan ijazah seakan hanya satu-satunya pilihan untuk dilakoni. Seperti tak ada cara lain saja yang bisa dipastikan halal dan ‘thoyib’nya. Inilah ciri pribadi yang takpandai mengelola akal, hati, dan nafsu. Kerja pengen minimalis, tapi untung ingin meruah-ruah.

Hanya ada satu cara untuk membuka topeng di wajah guru-guru palsu, lakukan penilaian berbasis kinerja. Jangan beri mereka penilaian dengan menggunakan soal pilihan ganda. Soalnya bisa mereka ‘akalin’ dan tak cerminkan kiprah mereka yang sesungguhnya. Pastikan isi kepala, perilaku, dan keterampilan mengajar guru bisa dievaluasi secara komprehensif. Coba cek kesabaran dalam mendidik murid, dedikasi dan loyalitas, keterampilan mengajar, produktivitas berkarya tulis, inovasi dalam pembelajaran, dan aspek lainnya yang berupa artefak atau dokumen yang bisa divalidasi. Portofolio, salah satu instrumen yang bisa menguak kepalsuan pribadi jahat yang mengaku dirinya guru.

"A portfolio or dossier is a collection of material that depicts the nature and quality of an individual's teaching and students' learning. Portfolios are structured deliberately to reflect particular aspects of teaching and learning – they are not trunks full of teaching artifacts and memorabilia. At it’s best a portfolio documents an instructor's approach to teaching, combining specific evidence of instructional strategies and effectiveness in a way that captures teaching's intellectual substance and complexity" (William Cerbin, 1993).

Mari kita bercermin pada hasil publikasi Bank Dunia, ”Spending More or Spending Better: Improving Education Financing in Indonesia”. Bank Dunia meneliti sejak 2009 di 240 SD negeri dan 120 SMP di seluruh Indonesia, dengan melibatkan 39.531 siswa. Hasil tes antara siswa yang diajar guru yang bersertifikasi dan yang tidak untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, serta IPA dan Bahasa Inggris diperbandingkan. Hasilnya, tidak terdapat pengaruh program sertifikasi guru terhadap hasil belajar siswa, baik di SD maupun SMP.

Tegasnya, program sertifikasi guru yang telah diselenggarakan Kemdikbud selama beberapa tahun terakhir tak berdampak signifikan terhadap perbaikan mutu pendidikan nasional. Mau tahu berapa rupiah negara ini harus merogoh kocek? Pada 2010 saja, biaya sertifikasi sudah mencapai angka Rp 110 triliun, sekitar dua pertiga dari total anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen APBN. Alamak. Kita jadi kebingungan, mana guru sejati dan mana guru palsu. Kok bisa ya sudah bersertifikasi tapi tak mampu perbaiki diri dan berkontribusi untuk kemajuan pendidikan nasional? Bukankah ini juga tanda-tanda hadirnya praktik bercita rasa kepalsuan?

Ijazah itu penting, tapi bukan segala-galanya. Kesungguhan pemerintah untuk memuliakan profesi guru masih tengah diuji. Guru mesti dibina bukan dihina dan dikambinghitamkan atas setiap kegagalan dalam proses pendidikan bangsa. Guru mesti dihargai bukan untuk dimanipulasi. Kembangkan potensi guru, lalu apresiasi dengan cara yang adil danmanusiawi. Prinsip keadilan mesti ditegakkan.

Guru palsu mesti dihapuskan dari muka bumi ini. Guru sejati mesti dirawat agar tetap bisa mengawal perjalanan pendidikan bangsa ini agar selalu baik dan lebih baik lagi. Hanya kebijakan cerdas dan visioner dari pemerintah yang bisa pecahkan persoalan guru berijazah palsu. Guru kencing berdiri murid kencing berlari. Lantas, jika guru palsukan ijazah, maka apa yang bakal dipalsukan murid-muridnya?

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA