Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Djaduk Ferianto Ajak Mahasiswa Berani Bermusik

Kamis 14 Mar 2019 02:45 WIB

Red: Ani Nursalikah

Pemusik Djaduk Ferianto.

Pemusik Djaduk Ferianto.

Foto: Antara/Widodo S. Jusuf
Mahasiwa diminta jangan takut dianggap merusak tradisi lewat musik.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Aktor sekaligus maestro musik Djaduk Ferianto 'memprovokasi' mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk lebih berani berekspresi dalam bermusik dan jangan takut jika dianggap merusak tradisi.

"Generasi milenial memang sedang menciptakan tradisi (bermusik) baru, tetapi sumbernya dari yang lama, dalam konteksnya interpretasi baru. Itu sah dan boleh, nggak ada larangan," katanya saat menjadi pemateri dalam Workshop Musik Hybrid di Kampus ISI Denpasar, Rabu (13/3).

Hal yang terpenting, menurut Djaduk, dalam berekspresi lewat musik agar tetap cinta pada tradisi masing-masing. Hal ini sesuai dengan hakekat musik hibrid yang mengandung pencangkokan kebudayaan.

"Kesenian kita, apalagi ngomong Indonesia, Indonesia itu sangat hibrid. Indonesia itu bukan orang Jawa saja, bukan orang Sumatra saja, bukan orang Bali saja, tetapi semuanya memberikan percampuran, percampuran ini yang menjadikan Indonesia. Dalam konteks musik hibrid sebenarnya ada pencangkokan-pencangkokan secara kebudayaan," ujarnya.

Pada acara yang diselenggarakan oleh Prodi Musik ISI Denpasar itu, ia menjelaskan dalam musik tradisi Bali pun, sebenarnya sudah melakukan model-model hibrid atau pencampuran, contohnya perkembangan gamelan gong gede, gong kebyar, semarandana, dan sebagainya.

"Jadi, bukan hal yang baru sebenarnya. Adik-adik mahasiswa jangan takut kalau dianggap sedang merusak tradisi, tetap ada proses pertumbuhan atau regenerasi karena anak-anak muda harus menciptakan tradisinya," ucapnya.

Pemusik kelahiran Yogyakarta itu sependapat musik yang lama tetap dipelajari, dipertahankan, dan tetap terpelihara, namun yang baru tetap harus muncul. "Ini karena rumusan dalam kebudayaan itu ada yang hilang dan ada yang tumbuh. Tradisi jangan mandek dan harus terus berkembang. Intinya, generasi milenial harus punya keberanian untuk mencoba keluar dari satu pola yang sudah mainstream," katanya.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar Dr I Komang Sudirga mengatakan dengan hadirnya pemusik kenamaan Djaduk Ferianto ke kampus setempat, diharapkan mahasiswa dapat menggali ilmu sebanyak-banyaknya, yang nantinya dapat bermanfaat dalam menggarap dan memberdayakan kebudayaan yang dimiliki agar lebih maju.

Apalagi, hal tersebut sejalan dengan visi ISI Denpasar untuk menjadi pusat unggulan seni yang berbasis kearifan lokal dan berwawasan universal. "Terobosan secara akademis harus terus kita bangun, harus dimotivasi agar produk dari karya cipta bisa menelurkan yang baru dan berbeda dari karya sebelumnya," ucap Sudirga didampingi Humas ISI Denpasar I Gede Eko Jaya Utama.

Ketua Panitia Acara Workshop I Komang Darmayuda, SSn, MSi mengatakan kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa Prodi Musik ISI Denpasar karena Komposisi Musik Hybrid juga merupakan salah satu mata kuliah di kampus setempat. Setelah mengikuti workshop yang diselenggarakan selama dua hari 13-14 Maret, para peserta akan mempertunjukkan karya mereka pada 15 Maret mendatang.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA