Rabu, 16 Syawwal 1440 / 19 Juni 2019

Rabu, 16 Syawwal 1440 / 19 Juni 2019

Mahasiswa Bengkulu Olah Kulit Rambutan Jadi Teh

Jumat 28 Sep 2018 23:13 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Buah Rambutan (Ilustrasi)

Buah Rambutan (Ilustrasi)

Buah kulit rambutan masih dianggap bahan tak berguna.

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU -- Mahasiwa peserta kuliah kerja nyata (KKN) Universitas Bengkulu membuat terobosan dalam pengolahan limbah kulit rambutan menjadi teh yang bermanfaat menurunkan kadar kolesterol.   

"Kami membuat teh dari kulit rambutan atau disebut kuras atau kulit rambutan seduh," kata Jelika Anggun, mahasiswa peserta KKN di Desa Padang Sepan Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, Jumat (28/9).   

Produk yang dipamerkan dalam ajang KKN Expo Universitas Bengkulu 2018 itu terinspirasi dari sumber bahan baku berupa buah rambutan yang melimpah di desa tempat mereka KKN.   

Selama ini, buah kulit rambutan dianggap bahan tak berguna yang berakhir di tempat pembuangan sampah. Kondisi ini melatarbelakangi mahasiswa untuk berinovasi mengolah kulit buah rambutan menjadi teh berkhasiat.   

Produk teh itu mulai dikenalkan pertama kali pada masyarakat yang selama ini menganggap kulit rambutan tidak bermanfaat. Selain teh berbahan kulit rambutan, para mahasiswa juga menciptakan berbagai produk lain yang berbasis bahan baku lokal seperti kerupuk dan susu dari biji durian.   

Pembuatan kerupuk berbahan biji durian termasuk sederhana. Langkah pertama merendam biji durian dengan campuran air dan kapur sirih guna membuang lendir pada durian.   

"Kemudian biji durian dikukus lalu diblender hingga menjadi semacam tepung dan dicampur dengan tepung biji durian dicampur dengan tepung sagu untuk bahan baku kerupuk gurih," kata Triwulan, peserta KKN dari Desa Durian Lebar, Kabupaten Bengkulu Tengah.    

Ia mengatakan awal dikenalkan pada masyarakat, sebagian besar menganggap aneh sebab biji durian tidak pernah diolah menjadi tepung apalagi menjadi kerupuk.   

Namun, setelah diberikan penjelasan tentang kandungan biji durian yang relatif aman untuk dikonsumsi maka masyarakat pun menerima dan mau mencicipi produk tersebut.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA