Senin, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 Februari 2019

Senin, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 Februari 2019

Akademisi UMM Upayakan Lestarikan Tata Bahasa Indonesia

Rabu 18 Jul 2018 12:24 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Dwi Murdaningsih

Diskusi tentang tata bahasa Indonesia.

Diskusi tentang tata bahasa Indonesia.

Foto: umm
Bahasa adalah ilmu yang sangat sulit dipelajari.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Bahasa yang selalu berkembang menjadikan salah satu rumpun ilmu ini tidak pernah selesai untuk dipelajari. Bagi Profesor Rustono, salah seorang begawan linguistik Indonesia, mempelajari bahasa tidak ada batasnya.

"Belajar tentang bahasa tidak pernah cukup dalam satu jenjang pendidikan," kata pria kelahiran Brebes tersebut. 

Di tengah maraknya pembuatan konten sebagai salah satu profesi di era modern ini, dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini menyebutkan, siapapun yang bekerja atau belajar dalam lingkup bahasa harus memahami secara cermat bahasa tersebut. Menjadi pelaku dalam disiplin bahasa juga tidak hanya melulu membutuhkan pemahaman dari sisi konteks. Di sisi lain, juga harus dipahami dalam kaidah tata bahasanya.

Dalam paparannya pada agenda dialog pakar dengan tema Pragmatik dalam Dinamika Sosiokultural di Era Revolusi Industri di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Selasa (17/7), Pembantu Rektor Bidang Akademik UNNES ini memberikan salah satu contoh kesalahan penggunaan istilah yang sering digunakan. Istilah yang dimaksud mulai dari acara tingkat nasional hingga masjid di desa-desa. Istilah tersebut ada pada teks doa yang berbunyi "Ampunilah dosa-dosa kami".

"Ada satu ungkapan yang kesalahannya mulai tingkat nasional hingga wilayah desa yakni pada ungkapan 'ampunilah dosa-dosa kami'," kata pria yang akrab disapa Prof Rus ini.

Menurutny, pada ungkapan tersebut berarti yang diampuni oleh Tuhan itu manusia sebagai individu. Atau, dia melanjutkan, manusia atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Dalam hal ini bukan dosa-dosa manusia sehingga ungkapan tersebut menjadi lebih tepat jika "ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah aku perbuat”.

"Jika kita telaah kembali, maka ungkapan yang benar adalah ‘ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah aku perbuat’," kata dia.

Selain membahas beberapa istilah yang kurang tepat, penulis buku Pokok-pokok Pragmatik ini juga mengajak seluruh akademisi untuk benar-benar menyadari penggunaan bahasa yang benar. Ia pun menegasakan, menggunakan bahasa sesuai dengan tata bahasa, tidak akan menjadikan komunikasi terasa kaku. Hal ini justru akan menghindari kesalahpahaman.

"Bahasa itu ilmu yang sangat sulit dipelajari. Maka merupakan hal yang sangat luar biasa jika kita bisa menaklukkan bahasa itu sendiri," lanjutnya.

Kehadiran salah satu pakar Bahasa Indonesia dibidang Pendidikan Bahasa Indonesia, Pragmatik, Sintaksis, dan Morfologi ini diapresiasi setinggi-tingginya oleh Rektor UMM Fauzan. Ia pun berpesan agar para peserta yang hadir dapat mengambil banyak ilmu dari acara ini. "Anda semua yang hadir di sini sangat-sangat perlu bersyukur. Sangat jarang sekali pakar seperti Prof Rus ini hadir membagikan ilmunya," ucap Fauzan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES