Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Mahasiswa STPP Temukan Mata Rantai Masalah Pertanian

Rabu 23 May 2018 22:12 WIB

Rep: Eric Iskandarsjah/ Red: Yusuf Assidiq

Sawah

Sawah

Foto: Republika/WIhdan Hidayat
Salah satu masalah yakni proses olah tanah lahan padi memakai mesin traktor roda.

REPUBLIKA.CO.ID, KLATEN -- Mahasiswa Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang Jurusan Penyuluhan Pertanian Yogyakarta mencermati lebih dalam mengenai permasalahan krusial terkait pertanian di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Hal tersebut dilakukan saat memasuki pekan ke-6 kegiatan pendampingan.

Di luar tugas yang diberikan lembaga untuk menginventarisasi alat mesin pertanian bantuan dari pemerintah, ke-10 mahasiswa yang turun langsung ke lapangan ini juga mengamati masalah-masalah yang menghambat perkembangan pertanian di kecamatan setempat, sembari mendata pengelolaan alat mesin pertanian bantuan pemerintah di 18 desa yang berada di Kecamatan Polanharjo.

Kepala Desa Sidowayah, Hapsoro, mengatakan salah satu masalah pertanian yang menjadi mata rantai dari serangkaian polemik agrikultural di wilayah setempat adalah proses olah tanah lahan padi menggunakan mesin traktor roda dua. Dalam sekali olah tanah, kata dia, petani harus mengeluarkan banyak biaya untuk membayar jasa sewa alsintan, berikut dengan operator serta bahan bakarnya.

"Biasanya, petani harus membayar kurang lebih Rp 300 ribu per patoknya, yang mana satu patok di Kecamatan Polanharjo berkisar sekitar 0,3 hektare. Dari Rp 300 ribu tersebut, operator mendapatkan bagian sekitar Rp 100 ribu," ujarnya, dalam siaran pers, Rabu (23/5).

Tingginya harga sewa alsintan itu sedikit banyak dipengaruhi oleh rendahnya jumlah operator di kecamatan setempat. Hampir semua operator di Kecamatan Polanharjo adalah pria berusia sekitar 40 tahun hingga 50 tahun yang membutuhkan biaya untuk menghidupi keluarganya.

Secara subjektif, operator memang layak mendapatkan sebagian besar dari hasil sewa alsintan. Namun, menurutnya,  secara objektif, pembagian tersebut cukup membebani petani dan Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA).

Kondisi tersebut sebenarnya dapat disiasati dengan peningkatan jumlah operator dari kalangan pemuda pertanian. Hanya saja, ia mencermati, minat pemuda setempat di bidang pertanian masih cukup rendah.

Pertanian sebenarnya adalah bidang yang sangat kuat dan berpengaruh besar. "Hanya saja kebanyakan pemuda masih berorientasi untuk bekerja di pabrik walaupun hanya sebagai buruh," jelas Hapsoro.

Menghadapi hal tersebut, 10 mahasiswa pendampingan di Kecamatan Polanharjo berusaha menunjukkan sisi pertanian sebagai hal yang menarik melalui pendekatan secara personal kepada pemuda-pemuda setempat.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA