Monday, 4 Syawwal 1439 / 18 June 2018

Monday, 4 Syawwal 1439 / 18 June 2018

Tips Hadapi Era 4.0 Versi Rektor IPB

Selasa 22 May 2018 23:43 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Yudha Manggala P Putra

Digital marketing atau pemasaran digital. Ilustrasi

Digital marketing atau pemasaran digital. Ilustrasi

Foto: opencolleges.edu
Saat ini, terdapat 160 juta masyarakat Indonesia yang terakses internet.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria memaparkan tren teknologi informasi di Indonesia yang menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun. Sampai saat ini, terdapat 160 juta masyarakat Indonesia yang terakses internet.

Dari data itu, 96 persen di antaranya penguna aplikasi chatt apps, 76 persen media sosial, 55 persen pengguna surel, 21 persen pengguna layanan streaming, 18 persen news portals, dan 12 persen online store.

Dengan tren tersebut, kebutuhan baru di era siber yang paling utama adalah baterai dan wifi, tidak lagi makanan. "Revolusi Industri 4.0 dicirikan dengan berkembangnya internet of/for things. Diikuti dengan teknologi baru dalam data sciences, kecerdasan buatan, robotik, cloud, 3D printing, dan teknologi nano, yang telah mendisrupsi inovasi-inovasi sebelumnya," tutur Arif dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (22/5).

Dengan perkembangan teknologi tersebut, telah terjadi pergeseran dari konsep kepemilikan menjadi konsep akses. Kini, orang bisa berjualan tanpa harus punya toko dan orang bisa berbisnis taksi tanpa harus punya mobil.

Arif menjelaskan, kondisi inilah yang telah membuat hilangnya sejumlah pekerjaan. Tapi, di sisi lain, sebenarnya era baru ini telah menciptakan berbagai jenis pekerjaan baru yang menggantikan pekerjaan lama. Misalnya, di Amerika Serikat, ada 3.508 pekerjaan yang hilang tapi ada 19.263 jenis pekerjaan baru yang dibuat.

Dinamika perubahan di atas semakin tak terelakkan. Namun persoalannya, percepatan perubahan teknologi lebih tinggi dari apapun, khususnya kultur, kebijakan publik, riset, maupun pendidikan. "Inilah yang dalam sosiologi dikenal dengan istilah kesenjangan budaya (cultural lag) yang menunjukkan bahwa perubahan kebudayaan material belum diikuti oleh kebudayaan non-material," ujar lelaki kelahiran 17 September 1971 itu.

Untuk sukses di era digital saat ini, Arif menjelaskan, faktor pertama yang harus dimiliki seseorang adalah kejujuran. Sedangkan, faktor kedua adalah disiplin, bagaimana kita harus mampu berpikir cerdas, bekerja cepat dan tepat. Ketiga adalah gaul, memiliki jaringan luas, dan good interpersonal skill.

Faktor berikutnya, dukungan dari pasangan hidup. Dalam memilih pasangan, Arif menganjurkan untuk memilih sosok yang baik, kondusif, adaptif dan visioner. "Jangan melihat pasangan hidup anda hari ini, tapi lihat pasangan hidup anda di 15 tahun lagi ia akan seperti apa," ucapnya.

Kelima dan keenam adalah bekerja lebih keras dari yang lain dan mencintai apa yang dikerjakan. Apabila ingin mendapatkan hasil yang lebih sudah tentu harus didapatkan melalui kerja yang lebih pula.

Passion merupakan faktor yang sangat penting. Arif mengajak generasi muda untuk menanamkan pada diri masing-masing untuk selalu mencintai pekerjaan yang didapatkan, sehingga nantinya bisa mendapatkan pekerjaan yang anda cintai.

Selanjutnya adalah kepemimpinan yang baik dan kuat, semangat dan berkepribadian kompetitif, pengelolaan kehidupan yang baik, dan kemampuan menjual gagasan dan produk. "IPB telah mempersiapkan para calon lulusannya dengan karakter-karakter tersebut melalui berbagai kegiatan yang terpadu," ujar Arif.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES