Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Pendidikan Jarak Jauh tak Terikat Rasio Dosen

Sabtu 19 Mei 2018 20:00 WIB

Red: Ratna Puspita

Menristekdikti Mohammad Nasir

Menristekdikti Mohammad Nasir

Foto: Gumanti Awaliyah/Republika
Perlu ada kajian pembelajaran daring di bidang sains seperti studi keteknikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan pendidikan jarak jauh (PJJ) tidak lagi terikat pada rasio dosen. Rasio tersebut, yakni untuk bidang eksakta 1:30 dan bidang sosial 1:40.

"Dengan adanya PJJ ini tidak lagi terikat pada rasio dosen. Bisa jadi satu profesor mengajar 1.000 mahasiswa dengan PJJ ini," ujar Nasir pada saat orasi ilmiah wisuda Universitas Tarumanagara di Jakarta, Sabtu (19/5).

Jika PJJ atau pembelajaran daring tersebut dapat diwujudkan di setiap perguruan tinggi, maka diperkirakan akan meningkatkan jumlah angka partisipasi kasar (APK) yang saat ini berjumlah 31,5 persen. Menurut Nasir, jika pembelajaran hanya diterapkan secara konvensional, peningkatan APK hanya berkisar pada angka 0,5 persen per tahun. 

Namun dengan terobosan PJJ ini, dia berharap, APK pendidikan tinggi mampu melesat mencapai 40 persen pada 2022-2023. PJJ tersebut juga akan dapat memangkas separuh dari biaya kuliah. 

Hal tersebut dikarenakan tidak lagi tatap muka dan tidak memerlukan ruang kelas secara fisik. "Kami memperkirakan Permenristekdikti mengenai PJJ ini akan keluar pada Juni mendatang,” kata dia.

Nasir menjelaskan ada beberapa hal yang mesti diperbaiki seperti belum diakomodirnya untuk pembelajaran daring secara penuh. “Saya minta untuk dimasukkan. Kami ingin memberikan ruang gerak bagi WNI untuk mengembangkan pendidikan tinggi," jelas Nasir.

Rektor Universitas Tarumanagara, Agustinus Purna Irawan, mengatakan banyak permintaan dari daerah untuk menyelenggarakan pembelajaran daring. “Pembelajaran daring merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dan memang banyak permintaan untuk hal tersebut,” kata dia. 

Namun, dia mengatakan, Universitas Tarumanegara harus melakukan kajian terlebih dahulu terkait penerapan di bidang sains. “Bagaimana untuk program studi keteknikan, bagaimana laboratoriumnya. Kemudian untuk kedokteran juga seperti apa. Kalau untuk program studi sosial, mungkin bisa segera dijalankan," kata Agustnius. 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA