Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Menristekdikti: Rektor Monitor Kegiatan Kemahasiswaan

Rabu 16 May 2018 22:50 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Esthi Maharani

Menristekdikti Mohammad Nasir.

Menristekdikti Mohammad Nasir.

Foto: Antara/Adiwinata Solihin
perguruan tinggi telah dan akan terus melakukan filterisasi terhadap mahasiswa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir menginstruksikan kepada rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan PT Swasta agar terus memonitor kegiatan kemahasiswaan yang ditengarai terpapar paham radikalisme. Kampus, tegas dia, harus bisa menangkal paham radikalisme dan sikap intoleransi yang muncul di kampus.

"Saya sudah sampaikan kepada kepada semua rektor untuk monitoring semua kegiatan-kegiatan kampus yang dilakukan dosen, mahasiswa yang ditengarai ada unsur intoleransi dan redikalisme, harus kita pantau," kata Nasir di Gedung Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta, Rabu (16/5).

Nasir mengatakan, selama ini perguruan tinggi telah dan akan terus melakukan filterisasi terhadap mahasiswa baru yang masuk kampus. Karena menurut dia, pemahaman radikalisme atau intoleransi kadang-kadang muncul sejak di bangku sekolah.

Untuk kalangan dosen, Nasir juga mengingatkan agar tidak ada dosen yang menyebarkan paham-paham radikalisme kepada mahasiswanya. Jika,terbukti maka dosen tersebut akan diberikan sanksi yang tegas.

Belum lama ini, Nasir menyebutkan telah ada beberapa dosen yang diberhentikan sementara karena terbukti terpapar radikalisme yaitu satu dekan dan dua ketua program studi asal Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). Karena, kata dia, ketiganya diduga kuat menyebarkan paham radikalisme di lingkungan kampus.

"Dekan ITS sudah diberhentikan. Ketua program juga diberhentikan. Jadi kepada rektor, kalau (ada dosen) yang menjabat tolong kalau memang terlibat diberhentikan jangan dibiarkan. Ga boleh ini," jelas Nasir.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA