Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Rektor Diminta Lebih Tegas Bersihkan Paham Radikal di Kampus

Rabu 16 Mei 2018 22:46 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Esthi Maharani

Radikalisme(ilustrasi)

Radikalisme(ilustrasi)

Foto: punkway.net
Kampus seringkali dimanfaatkan untuk menumbuhkan dan menyebarkan paham radikal.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Forum Rektor Indonesia (FRI) mendorong pimpinan Perguruan Tinggi lebih tegas dalam membersihkan kampus dari paham radikal yang tidak sesuai dengan falsafah dan sistem kenegaraan. Karena selama ini, kampus seringkali dimanfaatkan untuk menumbuhkan dan menyebarkanpaham radikal.

"Kelompok radikal seringkali memanfaatkan kondisi mahasiswa yang umumnya datang dari berbagai daerah yang pada tahap awal mereka galau mencari pegangan. Proses ini berjalan sudah cukup lama, sehingga tidak tertutup diantara mereka yang dulunya mahasiswa saat ini sudah menjadi dosen. Akhirnya penyusupan paham radikal saat ini menjadi lebih efektif," kata Anggota Dewan Pertimbangan FRI Prof Asep Saefudin saat dihubungi, Rabu (16/5).

Lalu yang disayangkan, lanjut Asep, selama ini para dosen dan pimpinan kampus level Universitas hingga program studi (Prodi) relatif sibuk dengan urusan administrasi. Sehingga pembinaan kemahasiswaan yang seharusnya dilakukan para dosen dan pimpinan kampus tersebut menjadi sedikit kendor.

"Posisi inilah yang dioptimalkan oleh para dosen yang cenderung punya aliran radikal, termasuk tidak mau mengakui symbol-simbol kenegaraan untuk menyebarkan paham radikal," ungkap dia.

Kendati begitu, dia tetap berpesan agar dosen atau mahasiswa yang dicurigai beraliran menyimpang itu harus diajak bicara dan diminta untuk tunduk pada regulasi negara. Dalam hal keagamaan pun, jelas Asep, tentunya harus berpegang teguh pada tali agama yang sesuai dengan esensi dasar beragama itu.

Misalnya dalam hal agama Islam, esensi rahmatan lil alamin, dan menghormati perbedaan harus ditumbuhkan, jangan memaksakan aliran menyimpang dari Al Quran dan Al Hadits yang tidak harus negara Islam. "Tetapi Islam sebagai spirit kemajuan, toleransi, tolong menolong, tidak merusak dan sifaf-sifat baik dari ajaran Islam itulah yang harus dijadikan landasan kehidupan bermasyarakat", kata Asep.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES