Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

ITS Rancang Kapal Survei Otomatis Pertama

Selasa 13 Maret 2018 17:00 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Yudha Manggala P Putra

Autonomous Unmanned Surface Vehicle (A-USV), atau kapal tanpa awak pertama di Indonesia karya Tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

Autonomous Unmanned Surface Vehicle (A-USV), atau kapal tanpa awak pertama di Indonesia karya Tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

Foto: dok. ITS
Kapal mungil tanpa awak bernama Geomarine 1.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Departemen Teknik Geomatika bekerja sama dengan Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan kapal mungil tanpa awak bernama Geomarine 1.

Kapal ini merupakan Autonomous Unmanned Surface Vehicle (A-USV), atau kapal tanpa awak yang dapat bergerak secara mandiri untuk survei hidro-oceanografi.

Danar Guruh Pratomo, ketua tim penelitian menjelaskan, tidak seperti wahana survei hidro-oceanografi konvesional lainnya, A-USV ini merupakan kapal survei yang menerapkan teknologi otomasi pertama di Indonesia. A-USV bekerja menggunakan sensor optik dan akustik untuk dapat mengetahui keadaan di bawah permukaan laut.

A-USV dilengkapi dengan sistem navigasi Global Navigation Satellite System (GNSS) dan sensor optik, untuk mengetahui posisi dan keadaan di sekitar permukaan perairan. "Untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan perairan, A-USV Geomarine 1 dilengkapi dengan kamera bawah air dan sensor akustik (echosounder)," kata Danar di Surabaya, Selasa (13/3).

Danar melanjutkan, sensor akustik yang dipunyai A-USV ini memiliki kemampuan untuk melakukan down imaging, untuk mengukur kedalaman air. Sensor tersebut juga memiliki kemampuan side imaging scan, yang berfungsi untuk mengetahui gambaran di dasar perairan dan sebaran sedimen dasar laut.

"Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan alat ini secara lebih praktis. Termasuk untuk survei pemantauan kondisi terumbu karang di lautan," ujar Danar.

Danar menerangkan, dalam pengopereasiannya, operator harus memprogramkan jalur survei pada sistem komputasi kapal terlebih dahulu. Nantinya kapal akan berjalan sesuai dengan yang telah diprogram.

Istimewanya, lanjut Danar, A-USV dilengkapi collision avoidance system, sehingga kapal ini dapat menghindar secara otomatis apabila di depannya terdapat hambatan. "Selain itu kapal ini juga dilengkapi sensor yang memungkinkan kapal kembali secara otomatis ke titik semula apabila baterai kapal akan habis," kata pria berkacamata tersebut.

Namun demikian, Danar juga menyadari, A-USV juga memiliki kekurangan dalam pengambilan data. Diantaranya, teknologi A-USV ini masih mengharuskan kapal membawa ecoshounder selama survei, sehingga data baru bisa diolah ketika kapal selesai berlabuh di titik akhir.

"Kalau terjadi sesuatu pada kapal selama proses pengambilan data, kapal A-USV akan menghilang bersama data yang belum sempat direkap," kata Danar.

Guna mengantisipasi kehilangan data, Danar pun berencana melakukan kerja sama dengan Departemen Teknik Informatika untuk mengembangkan sistem telemetri pada Geomarine 1. Telemetri sendiri merupakan sebuah teknologi yang memungkinkan penggunanya mengirimkan data dari jarak jauh. Melalui teknologi tersebut A-USV dapat mengirimkan data secara real time saat survei kepada operator.

Selain itu, Danar juga berencana memodifikasi bentuk dari kapal sehingga lebih tahan terhadap ombak dan lebih mudah untuk dibawa. Pasalnya, model A-USV yang sekarang hanya bisa digunakan di permukaan air dengan goncangan yang sedang, seperti pinggir laut ataupun danau.

Desain model knockdown pun telah dipersiapkan dengan menggandeng peneliti dari Fakultas Teknologi Perkapalan ITS. "Kita ingin meningkatkan keseimbangan kapal ini sehingga bisa dioperasikan di laut yang lebih luas," ujar Danar.

Danar menyatakan, dengan adanya alat ini, survei hirdro-oseanografi pun menjadi lebih cepat dan mudah dilakukan. Hal ini tentu menjadi sangat membantu dalam upaya memantau kondisi bawah laut Indonesia.

Apalagi, sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki lautan luas terbentang yang kaya akan biota di dalamnya yang patut dijaga. Salah satu upaya menjaganya adalah dengan memantau keadaan bawah laut melalui survei hidro-oseanografi. "Ke depannya, para peneliti bisa melakukan survei sambil bersantai menikmati suasana pantai dengan tenang," kata Danar.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES