Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

IUQI Gelar Seminar Nasional Pendidikan Islam

Jumat 23 Februari 2018 05:14 WIB

Red: Irwan Kelana

Suasana seminar nasional pendidikan Islam yang diadakan oleh IUQI.

Suasana seminar nasional pendidikan Islam yang diadakan oleh IUQI.

Foto: Dok IUQI
pengelola lembaga pendidikan Islam harus menguatkan tiga pondasi utama.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR --  Institut Ummul Qura Al-Islami (IUQI) menggelar seminar nasional pendidikan Islam. Kegiatan tersebut diadakan di kampus IUQI, Kawasan Pondok Pesantren Ummul Qura, Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/2).

Seminar itu menampilkan dua tokoh nasional, yakni sebagai keynote speaker yakni Prof Dr  KH  Muhammad Tolchah Hasan (mantan Menteri Agama RI era Presiden Gus Dur dan  juga pendiri Universitas Islam Malang) dan Prof  Dr KH  Mahmud MSi  (rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Koordinator Kopertais Wilayah II Jabar Banten).

Dalam paparannya di hadapan para dosen, mahasiswa dan pengelola lembaga pendidikan Islam, Kiai Tolchah mengingatkan agar pengelola lembaga pendidikan Islam harus menguatkan tiga pondasi utama.

Pertama, penegasan dan komitmen terhadap niat awal dan cita-cita ideal yang akan diraih. Hal ini sangat penting sebagai arah dan tujuan perjuangan yang hendak dicapai, agar lembaga pendidikan tidak salah atau kehilangan arah. Tidak sedikit lembaga yang sudah maju, melupakan cita-cita idealnya hingga kehilangan orientasi dan arah tujuan.

Kedua, profesionalitas dalam pengelolaan sarana pendidikan. Walaupun sarana bukan penentu keberhasilan pembelajaran, namun ketersediaan fasilitas harus terbaru dan maksimal. Pencapaian target akan lebih optimal manakala fasilitas pembelajaran yang tersedia memadai.

Ketiga, pengembangan sumber daya manusia yang baik. Ketercukupan dan kualitas guru dan dosen menjadi prioritas utama pendidikan. Jika guru atau dosen kurang atau tidak memiliki kompetensi yang memadai, maka kualitas pun akan rendah. "Selain itu, wajib pula memenuhi kesejahteraan mereka, agar tidak mencaripenghasilan tambahan di tempat lain," ujarnya.

Sementara itu, Prof  Mahmud mendorong agar perguruan tinggi memberdayakan potensi mahasiswa dan dosen, agar sukses di tengah masyarakat. Guru besar yang bersahaja ini mengambil inspirasi dari Surat Quraisy untuk meraih kesuksesan, baik untuk institusi mapun personal. “Surat pendek ini memberikan lima kunci keberhasilan,” ujarnya.

Pertama, li iilaa fi yakni kebiasaan. Jika ingin sukses maka baca kisah kebiasaan orang-orang sukses dan ikuti langkah mereka. Kedua, quraisy yakni citra positif seperti suku Quraisy yang disegani masyarakat Arab. Jika ingin berhasil maka bangunlah image yang baik di tengah masyarakat.

Ketiga, rihlah yakni perjalanan atau mobiltas tinggi. Jika ingin sukses harus sering bepergian atau melakukan perjalanan ilmiah untuk melihat kemajuan yang telah dicapai orang lain.

Keempat, asy-syitaa wa ash-shoif yakni pandai membaca situasi dan kondisi yang terus berubah. Kecakapan membaca medan perjuangan menuntut kesiapan dan kemampuan diri menghadapi tantangan.

Kelima, fal ya’budu yakni segala upaya dalam membangun lembaga pendidikan atau pun mendidik mahasiswa atau murid harus diorientasikan sebagai pengabdian kepada Allah SWT.

Pada sesi selanjutnya, tampil pembicara ahli antara lain Dr Saiful Falah, MPdI (rektor IUQI), Agus Tamami, SAg, MPdI (wakil rektor I), Dr Hj Marwani MPd, (dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam), Dr H  Endin Mujahidin MSi (Sekretaris Prodi S3 UIKA Bogor), dan Dr H Hasan Basri Tanjung, MA (praktisi pendidikan Karakter Islami dan Ketua Yayasan Dinamika Umat).

“Seminar nasional pendidikan Islam merupakan yang pertama kali dilaksanakan di Kampus Aswaja ini dan akan menjadi agenda tahunan untuk menguatkan visi dan misi IUQI dalam mengahadapi tantangan milenial, insya Allah,” kata Rektor IUQI Saiful Falah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Ketika Belgia Benamkan Tunisia

Ahad , 24 Juni 2018, 11:38 WIB