Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Agar Ramah Lingkungan, ITS Hibahkan IPAL ke Industri Pempek

Senin 15 Jan 2018 22:28 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Maman Sudiaman

Ipung Putri Purwanti (kiri) menyerahkan IPAL secara simbolis melalui Camat Rungkut

Ipung Putri Purwanti (kiri) menyerahkan IPAL secara simbolis melalui Camat Rungkut

Foto: dok ITS

REPUBLIKA.CO.ID,  SURABAYA -- Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghibahkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kepada pemilik rumah produksi pempek Tjek Entis di daerah Medayu Utara, Surabaya, Senin (15/1). Alat tersebut untuk mengolah air limbah dari industri makanan pempek agar menjadi lebih ramah lingkungan.

"IPAL ini merupakan inisiatif dari tim Teknik Lingkungan ITS untuk melakukan pengabdian pada masyarakat, papar Ketua Tim, " Ipung Fitri Purwanti di sela acara.

Ipung menjelaskan, setiap minggunya, tidak kurang dari 150 kilogram ikan tengiri diproses untuk dijadikan pempek di rumah produksi ini. Hasil sampingan produksi berupa air limbah yang berbau dan berwarna keruh ini sangat berbahaya jika dibuang langsung ke lingkungan sekitarnya.

"Sebelumnya, laboratorium kami melakukan analisa terhadap air limbah tersebut. Hasil analisa menunjukkan bahwa terdapat kadar zat organik, nitrogen, fosfor, minyak, lemak serta padatan terlarut yang tinggi, " kata Ipung.

Ipung memaparkan, pengolahan limbah air dimulai dari bak kontrol yang berguna untuk mengatur banyaknya limbah yang masuk. Bahan sisa tersebut kemudian melewati grease trap (bak penangkap lemak) untuk memisahkan minyak dan lemak.

"Proses selanjutnya adalah pemisahan padatan pada bak pengendap untuk mengurangi beban zat organik. Proses ini dilakukan secara manual, "kata Ipung.

Limbah sisa pembuatan pempek kemudian dimasukkan ke dalam tangki yang berisi bakteri EM16. Bakteri ini berguna untuk mereduksi kandungan zat organik dalam limbah.

Setelah reduksi kandungan zat organik, air limbah kemudian dialirkan pada pipa paralon yang bermuara pada tumbuhan tyfa atau Scirpus grossus. Tanaman ini mampu mengurangi kandungan nitrogen dan fosfor." Alhasil, limbah yang ada sudah bisa dibuang secara aman, "ujar Ipung.  

Ipung pun meyakinkan, Departemen Teknik Lingkungan ITS siap untuk memantau IPAL tersebut. Selama tiga bulan ke depan, timnya akan terus melakukan peninjauan mutu air yang berhasil terolah. Hal ini bisa dilihat dari kondisi tanaman tyfa yang tumbuh. "Jika tidak berhasil, kami akan melakukan pembenahan, "kata Ipung.




 


 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA