Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

PTM Kaji Cetak Biru Gerakan Ekonomi Muhammadiyah

Ahad 07 Jun 2015 15:29 WIB

Red: Agung Sasongko

Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin memberikan sambutannya usai penandatanganan nota kesepahaman bersama di gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (16/11).

Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin memberikan sambutannya usai penandatanganan nota kesepahaman bersama di gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (16/11).

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Empat perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) akan mengkaji cetak biru gerakan ekonomi Muhammadiyah yang baru saja selesai dirumuskan oleh Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK)PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) pada 5-7 Juni 2015.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan (STIEAD) Jakarta Mukhaer Pakkanna mengatakan, empat PTM tersebut adalah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), STIEAD Jakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Yohyakarta (UMY).

UMM, katanya akan mengkaji makro gerakan ekonomi Muhammadiyah, STIEAD Jakarta mengkaji tentang filosofi pengembangan ekonomi Muhammadiyah sebagai gerakan,?UMS mengkaji tentang pengembangan lembaga keuangan syariah dan?UMY mengkaji pengembangan ekonomi mikro terkait sektor ritel dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Mukhaer Pakkanna sebagai pemimpin sidang rekomendasi mengatakan cetak biru gerakan ekonomi Muhammadiyah akan disampaikan dalam acara Muktamar Muhammadiyah di Makasar pada Agustus 2015. Menurutnya, hasil seminar dan lokakarya di UMP-Palembang perlu dikaji secara khusus, untuk itu dalam acara tersebut belum bisa menjadi rekomendasi secara utuh.

"Berhubung waktu muktamar Muhammadiyah sudah berdekatan pada bulan Agustus maka MEK dan Forum Dekan Fakultas Ekonomi PTM-Se Indonesia meminta kepada empat perguruan tinggi tersebut pada tanggal 20 Juni sudah selesai mengkaji hasil rekomendasi cetak biru gerakan ekonomi Muhammadiyah," ujar Mukhaer dalam pernyataan resmi, Ahad (7/6).

Mukhaer memaparkan dalam aspek makro cetak biru ekonomi Muhammadiyah berisikan tentang pengembangan ekonomi Muhammadiyah 'incorporate' ekonomi jaringan. Filosofinya adalah bagaimana Muhammadiyah mampu melakukan konsolidasi segala amal usaha Muhammadiyah secara integrasi dalam sistem teknologi modern.

Dengan demikian, lanjutnya, Muhammadiyah akan semakin jelas peran dan fungsinya dalam memberikan kontribusi kepada bangsa terkait pengembangan ekonomi. Sedangkan di aspek mikro, Muhammadiyah membagi dalam dua aspek mikro yakni sifatnya yang keuangan yang berisikan tentang pengembangan lembaga keuangan syariah dan non-keuangan yang berisikan tentang penyusunan pengembangan ritel usaha mikro kecil dan menengah serta kewirausahaan di Muhammadiyah.

"Inilah yang menjadi garis-garis besar dalam perumusan cetak biru gerakan ekonomi Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh MEK PP Muhammadiyah," kata Mukhaer.

Sementara Ketua MEK PP Muhammadiyah Syafrudin Anhar menegaskan cetak biru tersebut merupakan hasil pemikiran MEK dan para pakar ekonomi dari dekan fakultas ekonomi Universitas Muhammadiyah se-Indonesia yang mencoba merumuskan agar Muhammadiyah pada abad ke-2 menjadi suatu kekuatan ekonomi yang bisa memberikan kontribusi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Syafrudin, dengan adanya cetak biru tersebut dapat menjadi barometer bagi Muhammadiyah dalam mengembangkan kegiatan ekonomi umat.? Selain itu dalam isi cetak biru tersebut dalam 10 tahun yang akan datang Muhammadiyah fokus dalam pengembangan sektor riil diantaranya adalah dengan membangun industi otomotif, pariwisata, pangan, kelautan yang disenergikan dengan industri keuangan syariah.

"Dengan adanya cetak biru inilah kami menyakini Muhammadiyah akan tumbuh ribuan pelaku usaha bisnis diberbagai daerah dan memiliki kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi bangsa," ujar Syafrudin.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA