Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Perlu Aturan Perinci Soal Uang Kuliah Tunggal

Jumat 22 Feb 2013 11:02 WIB

Red: Taufik Rachman

Mahasiswi di perpustakaan.  (ilustrasi)

Mahasiswi di perpustakaan. (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID,MALANG--Praktisi pendidikan Kota Malang, Jawa Timur, Nurcholis Sunuyeko, mengemukakan dunia pendidikan bukan industri yang dijadikan lumbung untuk mengeruk keuntungan.

"Dunia pendidikan ini adalah bentuk pengabdian untuk mencerdaskan anak bangsa agar mampu bersaing di kancah internasional, bukan untuk mengeruk keuntungan seperti di dunia usaha atau industri," kata Nurcholis yang juga Rektor IKIP Budi Utomo Malang tersebut, Jumat.

Karena pengabdian dan tidak mengeruk untung, ujarnya, maka seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) harus menjalankan instruksi Mendikbud M Nuh untuk menerapkan uang kuliah tunggal (UKT) pada tahun akademik 2013/2014.

Hanya saja, lanjutnya, penerapan UKT tersebut juga harus dibarengi dengan aturan yang lebih detil, sehingga setiap semester mahasiswa hanya dibebani pembayaran dengan nominal yang sama.

Kalau tidak ada aturan yang mengikat, katanya, bisa saja setiap semester akan terus berubah, bahkan setiap tahun ajaran baru dengan alasan setelah dikalkulasi dan dievaluasi ternyata tidak mencukupi biaya operasional.

Jika pemerintah ternyata tidak mampu lagi menanggung beban operasional di PTN atau SMP dan SMA negeri yang terlalu banyak, ujar Nurcholis, maka solusi terbaik adalah diswastakan (dikelola pihak swasta) agar mampu berinovasi dan mandiri secara finansial.

Karena, kata Nurcholis, jumlah PTN di Tanah Air sudah terlalu banyak, sedangkan SMP maupun SMA negeri sudah "overload", apalagi di Kota Malang.

Menurut dia, jumlah SMA negeri di Kota Malang idealnya hanya lima dan itu pun harus diperlakukan sama, tidak ada diskriminasi dalam anggaran maupun pembangunan fasilitas yang didanai dari APBD.

Namun demikian, sekolah-sekolah swasta yang sudah mandiri dan berkualitas bagus jangan dimatikan dengan berbagai peraturan. Kalaupun saat ini sudah mulai menurun kualitas dan peminatnya, maka harus dibangkitkan kembali agar lebih eksis.

"Saya yakin kok para pemerhati dan orang-orang yang peduli dengan pendidikan masih memiliki spirit diri yang kuat untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air, meski tanpa mendapatkan bantuan cukup signifikan dari pemerintah," tandasnya.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA