Eep: Jokowi-JK, Pilpres Selesai Satu Putaran
Rabu , 16 Apr 2014, 16:05 WIB
Pengamat Politik UI Eep Saefullah Fatah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- CEO PolMark Indonesia Inc. Eep Saefulloh Fatah meyakini calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Joko Widodo akan memenangi Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014 dalam satu putaran. 

Syaratnya adalah Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, memilih pasangan calon wakil presiden yang tepat.  Menurut Eep, sosok cawapres yang pas bagi Gubernur DKI Jakarta itu adalah mantan wakil presiden Jusuf Kalla.

"Jokowi-JK bisa satu putaran menurut hemat saya.  Kalau Jokowi keliru memilih pasangan, pilpres dua putaran terbuka," ujar Eep saat berbicara dalam forum The 14th Annual Citi Economic and Political Outlook Indonesia: The Next Chapter di Jakarta, Rabu (16/4). 

Selain faktor pasangan cawapres, Eep menjelaskan, berdasarkan survei yang dilakukan lembaganya di setiap daerah pemilihan, kecenderungan pemilih antara pemilu legislatif dan pemilu presiden berbeda. Pemilih Jokowi selalu lebih besar dibandingkan pemilih PDIP. 

Namun, jika ditilik lebih rinci, Eep menyebut terdapat dua hal yang masih menimbulkan resistensi terhadap sosok Jokowi.  Pertama, provinsi-provinsi dengan presentase rendah (kisarannya 20 sampai 30 persen) dalam memilih Jokowi, umumnya berada di luar Jawa. 

Spesifiknya di Indonesia bagian timur.  Kedua, pemilih yang berasal dari massa berbasis Islam, belum tentu akan langsung mengalihkan pilihannya kepada Jokowi."Kalau Jokowi bisa meraih kedua kelompok ini, maka pilpres akan selesai dalam satu putaran," kata suami dari presenter Sandrina Malakiano tersebut. 

Sebagai gambaran, pilpres 2009 berlangsung dalam satu putaran.  Kala itu, pasangan SBY-Boediono berhasil meraih 60,80 persen suara.  Unggul jauh atas pasangan Megawati-Prabowo serta Jusuf Kalla-Wiranto yang masing-masing memperoleh 26,79 persen suara dan 12,41 persen suara.

Dalam acara yang sama, Managing Director, Chief Asia Pacific Economist Head of Asia Pacific Economic and Market Analysis at Citigroup Johanna Chua mengatakan, ekspektasi pasar terhadap hasil pemilu legislatif 9 April 2014 tidak sesuai prediksi awal. 

Hal tersebut disebabkan tidak adanya partai politik yang dominan dalam perolehan suara sehingga terjadi fragmentasi.  Namun demikian, Johanna menyebut jika pilpres selesai lebih awal, maka respon pasar pun akan baik seiring adanya kepastian.

Redaktur : A.Syalaby Ichsan
Reporter : Muhammad Iqbal
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar