Ini Kesalahan Fatal Jokowi Dalam Debat Capres
Senin , 16 Jun 2014, 10:50 WIB
Calon Presiden nomor urut dua, Joko Widodo saat tampil dalam debat ronde II di Jakarta, Ahad (15/6). (Republika/Aditya Pradana Putra)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah, Pangi Syarwi Chaniago menilai debat capres yang dilakukan, Ahad (15/6), tidak maksimal. Perhatian sebetulnya tertuju kepada Jokowi. ''Jokowi banyak kesalahan fatal. Itu bisa turunkan reputasi dia,'' ujarnya, Senin (16/6).

Menurut Pangi, Jokowi belum dapat menjawab pertanyaan yang benar. Sebagai contoh, ketika moderator bertanya masalah kemiskinan dan pengangguran, Jokowi memilih jawaban terkait kartu dan revolusi mental. Padahal, jika Jokowi masih menjelaskan kartu, itu sudah tidak relevan lagi. Konteks Jokowi sudah nasional, tapi ia masih berpikir kedaerahan saja.

''Misal, kalau sibuk bicara Kartu Jakarta Sehat, kenapa tidak bicara BPJS saja. BPJS kan nasional, sementara kartu jakarta sehat itu lokal,''

Pangi menjelaskan, kesalahan lainnya ialah, Jokowi seakan menguji Prabowo untuk menjelaskan TPID. Menurut konteksnya, Prabowo tidak perlu menjawab pertanyaan Jokowi karena konteksnya hanya kedaerahan. Selain itu, sikap Jokowi yang bertanya tentang TPID bukan sikap negarawan yang baik.

Pangi melanjutkan, Jokowi seperti ingin menunjukkan ia lebih cerdas dari Prabowo. ''Itu ga boleh menguji. Jokowi bisa disebut tidak bisa lepas dari pencitraan. Ketika pertanyaan itu muncul, Jokowi menang 1-0 atas Prabowo, tapi tidak etis,'' kata dia.

Untuk Prabowo, Pangi menjelaskan, belum ada penjelasan yang konkret mengenai penutupan kebocoran anggaran. Prabowo dinilai terus membicarakan masalah kebocoran namun tanpa solusi yang jelas. Jika berbicara hanya ingin menutup kebocoran, semua rakyat pasti ingin hal itu.

''Prabowo seperti bingung untuk sebut bagaimana menutupnya, hanya bicara kebocoran anggaran kita sekian triliun. Harusnya Prabowo bilang, penyelidikan akan ditingkatkan, atau seperti apa,'' kata dia.

Di sisi lain, Prabowo baik dalam menjelaskan pengentasan kemiskinan dan pengangguran dengan membuat lahan pertanian. Hutan yang rusak bisa digarap untuk sektor pertanian merupakan ide yang cemerlang. ''Nah, katanya janjinya 2 juta hektar, tinggal tunggu saja, bener nggak itu,'' kata dia.

Secara keseluruhan debat capres semalam belum maksimal. Moderator tidak menggiring pertanyaan mengenai pajak. Pangi mengatakan, pajak sangat penting dibahas karena terkait pendapatan negara. ''Beda seperti di Amerika. Partai Republik dan Demokrat saling adu argumen. Ada yang menaikkan ada yang tidak antara dua partai itu,'' kata dia.

Redaktur : Bilal Ramadhan
Reporter : Wahyu Syahputra
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar