Kelompok Baju Hitam Antre di TPS Kampung Marengo
Rabu , 09 Apr 2014, 17:24 WIB
Schinta
Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar

REPUBLIKA.CO.ID, LEUWIDAMAR - Warga Suku Baduy juga antusias mengikuti pemungutan suara Pemilu 2014. Mereka mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) 2 di Kampung Marengo, Banten.

Warga Suku Baduy sudah mulai mengerubuni TPS sejak pukul 07.15 Wib. Panitia  pemungutan suara menjelaskan tatacara pencoblosan dengan mengunakan Bahasa Sunda. Selain karena warga Suku Baduy menggunakan Bahasa Sunda setiap hari, juga karena kebanyakan warga Suku Baduy tidak mengerti Bahasa Indonesia.

Warga yang berdatangan, mayoritas mengenakan baju adat serba hitam. Secara tertib warga yang datang mulai mengantre. Tampak puluhan perempuan Baduy mengenakan atasan berwarna gelap dipadu dengan bawahan berwarna biru di dalam antrean.

Beberapa laki-laki Baduy juga mengenakan baju dan celana berwarna hitam ditambah dengan lomar, slayer yang diikatkan di kepala khas baduy bermotif batik berwarna biru.

Alan, salah seorang panitia pemungutan suara di TPS Dua, Kampung Marengen mengatakan, antusiasme warga Baduy terbilang cukup tinggi. TPS yang digunakan menampung suara 495 warga kampung Marenge, Gajeboh dan Kampung Belimbing, terpaksa menunda penutupan TPS.

TPS dua yang dijadwalkan berakhir pada jam 12.00 terpaksa diundur lantaran ada beberapa warga yang belum menggunakan hak pilihnya.

Alan mengatakan, keterelambatan proses Pemilu di TPS Dua Kampung Marenge Desa Kanekes disebabkan banyaknya warga Suku Baduy yang buta huruf dan angka. Lantaran itu, panitia kerap membantu mengantar calon pemilih hingga ke bilik suara untuk membantu warga. Demi menghindari adanya dugaan keberpihakan dalam membantu warga, dua panitia dikerahkan sekaligus untuk membantu Warga Baduy yang buta huruf dan angka.

"Warga banyak yang buta huruf dan angka, menjadikan proses pemilu berjalan lambat," ujar Alan di TPS Dua Kampung Marengo Desa Kanekes, kepada Republika, Rabu (9/4).

Alan menjelaskan, banyaknya jumlah warga kampung Marengo yang buta huruf dan angka disebabkan oleh peraturan adat Suku Baduy yang melarang Warga Baduy mengenyam pendidikan. Larangan bersekolah merupakan salah satu dari larangan lain yang dibuat oleh Adat Baduy dan dianut hingga saat ini. Akibatnya, tidak hanya buta huruf dan angkan, sebagian Warga Baduy juga tidak bisa berbahasa indonesia.

Alan juga menjelaskan, pemilihan di Suku Baduy dilakukan tanpa proses mobilisasi massa seperti yang terjadi di tempat lain. Kata dia, Warga Baduy memilih karena merasa berkewajiban untuk terlibat dalam pemilihan.

Saat siang hari, terik matahari di Kampung Marengo terasa semakin panas di kulit. Namun pemandangan di TPS 2 di Kampung Marengo semakin khas. Demi menghindari terik matahari, sebagaian wanita Suku Baduy yang mengenakan atasan hitam dan bawahan biru, melakukan pencoblosan dengan menggunakan topi caping khas Suku Baduy, yang disebut Dedekeui.

Sebagaimana pemilu yang diikuti Suku Baduy di Kampung Marengo, Warga Suku Baduy di Kampung di Cicakal Leuwibulet juga terlihat antusias saat mengikuti pemilu di TPS delapan kampung Cicakal Leuwibulet.

Talci (85) mengatakan, pemungutan suara dilakukan sejak pukul 07.00 Wib. Sebagai seorang tokoh masyarakat di kampung Cicakal Leuwibulet, Talci menjelaskan, antusiasme warga Baduy ini karean ada perintah dari para sesepuh kampung.

"Warga sini (Cicakal Leuwibulet) mengikuti apa yang diperintahkan tokoh ada," ujar Talci kepada Republika Online (ROL) di teras rumahnya di perkampungan Suku Baduy Cicakal Leuwibulet, Lebak, Banten, Rabu (9/4).

Redaktur : Joko Sadewo
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar