Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Delapan Warga Masih Tinggal di Masjid di Lokasi Bandara NYIA

Selasa 14 Aug 2018 18:44 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Yusuf Assidiq

Kondisi bangunan yang jadi tempat relokasi warga yang terkena dampak pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) Kulonprogo, Selasa (25/9).

Kondisi bangunan yang jadi tempat relokasi warga yang terkena dampak pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) Kulonprogo, Selasa (25/9).

Foto: Republika/Eric Iskandarsjah
Warga tersebut tetap tidak mau pindah.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Bupati Kulonprogo, DIY, Hasto Wardoyo, mengatakan sampai saat masih ada delapan warga yang belum bersedia pindah dari lokasi pembangunan bandara NYIA (New Yogyakarta International Airport) di Kulonprogo. Mereka sekarang tinggal di masjid.

‘’Kedelapan warga tersebut merupakan bagian dari yang menempati 32 rumah yang tidak mau dipindah,’’ kata Hasto, di Gedung Pracimosono, Kepatihan Yogyakarta.

Menurutnya, masjid tersebut sampai sekarang masih ada, karena diharapkan masih bisa dipakai juga oleh pekerja pembangunan konstruksi bandara. ‘’Sampai sekarang masjid tersebut masih bisa dipakai. Saya inginnya selama belum diratakan, masjid masih bisa dipakai untuk karyawan,’’ katanya.

Namun, kata Hasto, masjid yang berada di dalam lokasi pembangunan bandara nantinya juga akan diratakan kalau masjid penggantinya sudah dibangun. ‘’Pemerataan masjid kemungkinan dalam empat bulan ini,’’ ujarnya.

Dikatakan Hasto, kedelapan warga tersebut tetap tidak mau pindah karena memang punya prinsip mendasar yang diyakininya seperti paham yang tidak bisa dibantah oleh orang lain.

Lebih lanjut Hasto menjelaskan perkembangan pembangunan Bandara NYIA. ”Sekarang sudah lelang dan sudah selesai. Tahap pertama pengurukan diharapkan dalam waktu empat bulan selesai. Setelah itu enam bulan dari sekarang dilakukan pemadatan (land clearing)."

Kemudian, delapan bulan ke depan (pada April 2019) harapannya sudah ada terminal sederhana, ada landasan sehingga bisa diuji coba. Pada bagian lain Hasto mengatakan sampai saat ini sudah ada sekitar 600 orang tenaga yang terserap untuk mendapatkan pelatihan dan tahun depan akan dilatih sebanyak 1.600 orang untuk disiapkan sebagai tenaga untuk bandara udara.

Mereka ada yang dilatih untuk pramugari, untuk aviation security, dan lain-lain . ‘’Sekitar 80 persen dari jumlah tersebut merupakan warga Kulonprogo, sedangkan yang 20 persen berasal dari luar Kulonprogo seperti Purworejo, Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA