Friday, 5 Rajab 1444 / 27 January 2023

Dolar AS Terus Menguat di Tengah Krisis Ekonomi Turki

Selasa 14 Aug 2018 04:53 WIB

Red: Andri Saubani

Performa Terburuk di Asia. Petugas menghitung mata uang Dolar AS di jasa penukaran uang BSM, Jakarta, Senin (13/8).

Performa Terburuk di Asia. Petugas menghitung mata uang Dolar AS di jasa penukaran uang BSM, Jakarta, Senin (13/8).

Foto: Republika/ Wihdan
Donald Trump menggandakan tarif impor baja dan alumunium dari Turki.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK --  Kurs dolar AS menguat lebih lanjut terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena krisis ekonomi Turki terus membebani euro dan mata uang negara-negara berkembang. Lira Turki telah jatuh 20 persen terhadap dolar AS selama dua sesi terakhir, setelah Presiden AS Donald Trump mengesahkan penggandaan tarif pada impor produk baja dan aluminium dari Turki.

Mata uang negara berkembang lainnya, seperti rupee India dan peso Meksiko terpukul sangat parah di tengah krisis lira. Sementara itu, kecemasan pasar tentang eksposur bank-bank Eropa ke Turki juga menekan euro, yang menyentuh 1,1365 dolar AS pada Senin (13/8), terendah sejak Juli 2017.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,04 persen menjadi 96,3983 di akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,1392 dolar AS dari 1,1397 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2751 dolar AS dari 1,2760 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7260 dolar AS dari 0,7289 dolar AS.

Dolar AS dibeli 110,67 yen Jepang, lebih tinggi dari 110,61 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9936 franc Swiss dari 0,9948 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3142 dolar Kanada dari 1,3133 dolar Kanada.

Baca juga: Rudal Perang Ekonomi Kini Ditujukan ke Turki

photo
AS Menghukum Ekonomi Iran

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA