Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Pembuktian Racikan Luis Milla

Senin 13 Aug 2018 21:38 WIB

Red: Joko Sadewo

Wartawan Republika, Hazliansyah

Wartawan Republika, Hazliansyah

Foto: Dok. Pribadi
Indonesia punya PR dalam urusan menjebol gawang lawan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Hazliansyah*

Tim nasional sepak bola Indonesia sukses melakoni laga pertama di Asian Games 2018 dengan hasil sempurna. Meladeni Cina Taipei (Taiwan) di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Ahad (12/8) malam, Hansamu Yama cs sukses menggilas Cina Taipei empat gol tanpa balas.

Lebih banyak menguasai jalannya pertandingan, timnas kesulitan menciptakan gol di babak pertama. Baru di interval kedua, tepatnya menit 76, keran gol Indonesia terbuka. Adalah melalui Stefano Lilipaly yang menyambut umpan set piece dengan sundulan yang mengarah deras ke sudut sempit gawang Cina Taipei.

Sejak gol itu, Indonesia yang sejak pluit pertandingan babak pertama dibunyikan menguasai jalannya pertandingan, semakin leluasa berkreasi. Hasilnya tiga gol tambahan tercipta. Alberto Goncalves di menit 71, gol kedua Lilipaly di menit 76, serta tendangan jarak jauh Hargianto di menit 93. Membuat gemuruh seisi stadion Patriot.

Perasaan suka cita langsung ditunjukkan seluruh penggawa timnas. Serta tidak ketinggalan masyarakat Indonesia yang sejak lama penasaran dengan racikan Luis Milla sebagai pelatih kepala.

Ya, sebelum benar-benar turun di ajang Asian Games 2018, hasil racikan pelatih Luis Milla memang belum menunjukkan hasil yang diinginkan. Meski pola permainan dan organisasi pertahanan sudah tersusun dengan baik, namun urusan cetak gol, Indonesia masih tumpul.

Sebut saja saat timas U-23 turun di PSSI Anniverssary Cup, yang oleh PSSI dijadikan sebagai uji coba dan pemanasan jelang Asian Games. Di turnamen yang berlangsung pada akhir April hingga awal Mei lalu itu, Indonesia berhadapan dengan Bahrain, Korea Utara, dan Uzbekistan. Namun dari semua pertandingan, Indonesia tak sekalipun menang.

Lebih buruknya lagi, Indonesia tidak mampu mencetak sebiji gol ke gawang lawan.

Namun melihat apa yang disuguhkan Luis Milla Ahad malam, seakan menjawab buntunya ujung tombak timnas Indonesia. Walaupun masih terlihat Indonesia krisis striker.

Dari 20 nama yang dibawa Luis Milla, hanya Alberto Goncalves yang merupakan striker murni. Kendati penampilan pemain naturalisasi itu malam tadi juga tak bisa dibilang meyakinkan. Suplai bola yang dialirkan dari dua pemain sayap, Febri Haryadi dan Irfan Jaya, tak berhasil ia konversi menjadi gol.

Kendati demikian, satu gol yang ia ciptakan hasil dari umpan Stefano Lilipaly, masih menjadi bukti dia striker Indonesia yang mumpuni. Naluri mencetak golnya masih tinggi, fisiknya terjaga, meski usianya sudah menginjak 37 tahun. Usia yang sejatinya kurang ideal untuk menjadi ujung tombak satu tim nasional. Tapi begitulah keadaanya.

Kembali ke pembuktian Luis Milla, dengan minimnya striker yang dimiliki Indonesia, membuat Milla memutuskan memasukkan banyak pemain tengah dalam skuat dengan naluri menyerang serta kecepatan yang tinggi. Penguasaan bola dan kesigapan bertahan juga tak diraguan.

Mereka adalah Hargianto, Evan Dimas, Septian David, Hanif Sjahbandi, Stefano Lilipay, Zulfiandi, Irfan Jaya, Ilham Udin, Febri Haryadi dan Saddil Ramdani.

Lilipaly sendiri dalam pertandingan itu disandingkan dengan Beto di barisan depan. Hasilnya, terbukti, Lilipaly menjadi faktor penentu kemenangan Indonesia. Lilipaly menjadi bintang. Kematangan dan fokusnya dalam bermain menjadikannya memang layak menjadi satu dari tiga pemain senior yang dimasukkan Luis MIlla.

Sisanya, Febri Haryadi dan Irfan Jaya serta Saddil Ramadani yang baru masuk di babak kedua, beroperasi dengan baik di sayap. Evan Dimas dan Hargianto serta Zulfiandi berkreasi di tengah, bertugas menjadi lapis kedua serangan serta penahan pertama pertahanan.

Melihat apa yang diracik Luis Milla dan pilihan skuatnya kali ini, memang menjadi yang terbaik untuk saat ini. Indonesia benar-benar bermain efektif, selain Milla sangat lihai dalam melihat kelemahan yang dimiliki Cina Taipei.

Sebelum laga, bersama Bima Sakti yang menjadi asistennya, Milla menyaksikan langsung pertandingan Cina Taipei menghadapi Palestina. Dari hasil analisanya, Taiwan yang bermain bertahan serta ditunjang lihainya penjaga gawang, membuat Milla menerapkan strategi untuk lebih sering bermain di area sayap. Ketat dan rapatnya pertahanan Cina Taipei harus dibongkar dengan aliran bola dari sayap dan umpan silang yang terarah.

Semua itu terbukti. Luis Milla benar-benar bisa membaca permainan lawan, serta kemudian dikreasikan dengan stok pemain yang dimiliki Indonesia.

Sehingga menjadi hal yang menarik menantikan strategi apa yang disiapkan mantan pemain Barcelona itu dalam menghadapi Palestina di pertandingan kedua timnas, Rabu (15/8) mendatang.

Secara fisik dan permainan tim, Palestina sangat berbeda dengan Cina Taipei. Palestina memiliki fisik yang kuat serta tim yang solid. Organisasi pertahanan dan pola serangan mereka tangguh. Tercatat, Palestina membuat 19 tembakan ke gawang Cina Taipei di laga perdana mereka, Jumat (10/8).

Akankah Indonesia kembali pesta gol? Yang jelas, Luis Milla sudah punya strategi dan pemain-pemain terbaik pilihannya. Dukungan masyarakat pun sangat dibutuhkan untuk bisa terus memberi bakaran semangat kepada para penggawa tim nasional.


*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA