Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Phobia Islam, Rasisme: Rusuh Prancis Usai Menang Piala Dunia

Kamis 19 Jul 2018 05:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Kerusuhan setelah Prancis memenangkan Piala Dunia 2018.

Kerusuhan setelah Prancis memenangkan Piala Dunia 2018.

Foto: Voice oh Europe
Bila nasionalisme dan etnik menjadi penghalang, agamalah yang akan menyatukannya.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

FIFA sebagai badan induk sepakbola dunia sudah lama melarang dan mengutuk rasisme. Semua kompetisi, baik pemain, offocial, maupun pelatih dalam olah raga ini di larang keras melakukannya.

Tapi meski pun begitu untuk menghindarkan adanya aksi pejoratif ini tetap tak mudah. Kerapkali rasisme di lapangan hijau masih terjadi. Yang paling sering terkena adalah pemain asal berkulit berwarna atau keturunan Afrika.

Tindakan sadis ini sering terjadi, meski tidak berbentuk teriakan makian verbal. Misalnya ada yang mengolok dengan melemparkan pisang atau menirukan tingkah layaknya monyet pada sekolompok pemain yang bukan kulit putih.

Dan aksi rasisme ternyata juga terjadi di tengah pesta kemenangan tim Prancis sebagai juara dunia sepakbola 2018. Tim mereka yang berasal dari campuran etnis ini menghempaskan tim Kroasia yang berasal dari satu etnis pribumi yang sama: Croatian.

Kegetiran ini terekam pada jeritan hati sahabat jurnalis saya, Dini Kusmana Massabuau. Alumni Universitas Trisakti ini sudah dua puluh tahun tinggal di Prancis. Isteri dari seorang lelaki yang berasal dari orang asli Prancis dan dipanggil sayang 'Akang Bule', mengalaminya langsung.

Mbak Dini pun sudah punya keluarga. Anak sulungnya sudah masuk universitas di Prancis. Dia kini memakai jilbab. Dari foto di media sosial, di kampung asal  keluarganya yang  berada di tanah Pasundan, terlihat ada sebuah pesantren yang disebutnya modal akhirat. Pesantren ini dikelola keluarga Mbak Dini.

Awalnya, bagi saya yang terkait tulisan Mbak Dini di media sosial, sebenarnya biasa saja. Tapi tiba-tiba ada yang terasa menyentak dan mengagetkan ketika dia bercerita soal suasana pesta kemenangan tim Prancis di yang terjadi di sekitar rumahnya di Montpellier, Prancis, itu.

Dalam tulisannya dia menumpahkan kegetiran hatinya: Tolong deh jangan main hakim dan menyamaratakan warna kulit. Lihat baik-baik ya, yang melakukan perusakan kemarin tidak semua orang Maghrébin atau orang keturunan Arab (bahkan ada menyebutnya sebagai unta hingga teroris)

Eh ben... Yang kulit putih, asli Perancis, juga banyak yang (bikin rusuh,red). Cari informasi yang lengkap, jangan asal comot.

Mereka pada mabuk, kalap.

Lupa ya? Yang buat gol itu salah satunya orang kulit berwarna, Muslim taat. Tiap tahun umrah. Bahkan sebelum piala dunia dia umrah lagi tuh.

Dan para pengamat bola memujinya dia itu Paul Pogba! Yes Pogba. Belum yang pemain lainnya, yakni Fekir. Atau masih mau disebut lainnya lagi? Nggak perlu kan. (lihat video Pogba menjalankan umrah di bagian khir tulisan serias tulisan kedua ini).

OK Perancis rugi. Jelas lah rugi. Terjadi kerusakan banyak. Orang-orang bodoh dan tidak bertanggung jawab itu berpesta sampai mabuk dan kalap. Mungkin mereka sebenarnya para kriminal yang cari kesempatan dalam kesempitan.

Tapi stop, menyebar berita bahwa itu hanya kelakuan atas satu ras. Stop rasis !

Saya juga pendatang dengan warna kulit berbeda, dan seorang Muslim.

photo
Kerusuhan di Prancis saat dinyatakan menang sebagai juara world Cup 2018 di Rusia. (f0to: Voice of Europa).
Mbak Dini menyebut keributan berbau rasial ini terjadi saat Prancis menjadi juara dunia sepakbola 2018 merebak  di beberapa kota)."Banyak Mas kerusuhan pada pesta juara dunia ada beberapa tempat seperti Paris, Lyon, dan Marseille,'' tambahnya membalas pertanyaan saya. Kerusuhan ini merusak toko-toko, fasilitas umum, kendaraan, dan membuat ketakutan warga. Dua orang tewas dan beberapa lainnya terluka akibat kerusuhan itu.

photo
Kerusuhan berbau rasial yang terjadi di Lyon usai Prancis menang piala dunia 2018.
Dan pada menjelang tengah malam waktu Indonesia, sebuah tambahan informasi dari Mbak Dini datang melalui percakapan di media sosial kembali. Dia meminta maaf atas terputusnya informasi yang telah dicoba saya lakukan melalui percakapan tertulis maupun telepon karena pergi ke dokter gigi. Dia menceritakan tambahan informasi itu.

Katanya: "Pada intinya sih Mas, ada kerusakan yang dibuat para  oknum sekelompok orang tidak bertanggung jawab itu. Tapi media Prancis sendiri tidak ada menyebutkan siapa, apalagi sampai bilang yang merusak itu orang imigran, apalagi bilang pelaku nya itu orang Maroko dan sebagainya. Nah di media sosial, orang-orang indonesia yang tinggal di Prancis malah mereka cela. Katanya, dasar unta-lah, dasar imigran, hingga dasar ini itu pokoknya. Bahkan sampai dibilang 'para unta' itu sebagai teroris."

Lanjutnya:"Gitu mah ini yang buat saya marah. Wong orang Perancis sendiri dan media nggak bilang soal ras kok yang Indonesia sesama pendatang malah bilang rasis. Kayaknya kalau Mas cari di Google soal kerusakan di Paris sehabis Piala Dunia langsung dapat deh banyak. Media Prancis sangat hati-hati kok memberitakan masalah ini."

Nah, keluhan getir Mbak Dini sebelumnya mendapat komentar dari sahabatnya yang juga tinggal di Prancis. Dia malah menceritakan bahwa rasisme memang kerap terjadi di negara itu.

Kata komen itu seperti ini: Kayak aku (juga) mbak. Waktu anter sekolah anakku sama Laura, layaknya perilaku biasa seorang anak-anak, si kakak pamer dong sama temennya: "ini loh adikku bla bla." Temannnya yang satu bilang "cantiknya bla bla". Eh teman yang satu bilang "masa adikmu dia gak punya rambut pirang sama kayak kamu.''

Aku langsung kaget hahahahahha (dasar rasis) kataku dalam hati. Namun kakaknya langsung bilang:"kamu iri Karena tidak punya adik cantik seperti laura."

photo
Polisi anti huru-hara Prancis mengamankan para supoter dan orang yang terindikasi mabuk usai Prancis memenangkan Piada Dunia 2018.
 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA