Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Masyarakat Diimbau Kurangi Aktivitas Luar Ruangan

Jumat 06 Jul 2018 16:52 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Friska Yolanda

Pantauan cuaca BMKG.

Pantauan cuaca BMKG.

Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho
Masyarakat diimbau menjaga kesehatan di tengah perubahan suhu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terjadinya penurunan suhu di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di DKI Jakarta karena pengaruh dari aliran massa dingin dari Australia yang menuju ke Asia. Perubahan suhu tersebut dapat mempengaruhi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Tri Indrawan mengungkapkan, perubahan suhu tersebut harus disikapi dengan melakukan perubahan aktivitas yang dilakukan. Sehingga, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. 

"Sekarang ini, perbandingan penurunan suhu bisa mempengaruhi manusia yang beraktivitas di luar. Perubahan cuaca yang saat ini terjadi, harusnya disikapi dengan melakukan perubahan aktivitas warganya," kata Indrawan saat dihubungi, Jumat (6/7). 

Ia menyebutkan, kondisi suhu yang turun tersebut dapat mempengaruhi kesehatan. Terlebih lagi, bagi masyarakat yang tidak mengetahui akan perubahan suhu tersebut, masih melakukan altifitas din luar ruangan seperti biasanya. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu di DKI Jakarta, Jumat (6/7) ini berkisar antara 20 hingga 33 derajat celcius.

"Untuk beberapa masyarakat yang kondisi badannya kurang begitu fit, biasanya mulai terserang flu, panas dingin, karena perubahan temperatur pada tubuhnya. Jadi yang mulai berpengaruh sekarang, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan," tambahnya.

Baca juga, BMKG: Jangan Khawatir Penurunan Suhu

Oleh sebab itu, bagi masyarakat yang memang beraktivitas di luar ruangan, diharapkan menjaga kesehatannya. "Terus persiapan kedua, mempersiapkan kondisi fisiknya supaya tidak terkena kendala penyakit. Jadi banyak minum dan banyak istirahat, itu akan banyak membantu," katanya. 

Walaupun begitu, perubahan suhu tersebut merupakan hal yang sudah biasa terjadi tiap tahunnya, dalam rentang waktu dari Bulan Juli hingga Agustus. Perubahan suhu saat ini pun juga dinilai tidak terlalu ekstrim.

"Perubahan suhu itu belum memasuki cuaca ekstrem. Ini baru pengaruh-pengaruh dari Australia karena mau perubahan musim," ujarnya.

Menurutnya, untuk DKI Jakarta sendiri pengaruhnya hanya kepada masyarakat. Berbeda dengan suburban area yang mana perubahan suhu ini juga bisa berdampak terhadap pola tanam palawija.

"Perubahan cuaca itu akan lebih banyak bermasalah di suburban. Dimana perubahan cuaca satu dua derajat itu sangat mempengaruhi pola tanam palawija. Kalau untuk aktifitas kota besar seperti Jakarta belum terlalu banyak," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA