Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Ikut Sunatan Massal PLN

Kamis 28 Jun 2018 18:24 WIB

Red: Elba Damhuri

Suasana sunat anak yatim dan duafa yang digelar PLN, Kamis (28/6).

Suasana sunat anak yatim dan duafa yang digelar PLN, Kamis (28/6).

Foto: Dok PLN
Ini menjadi program CSR PLN untuk keluarga tidak mampu.

REPUBLIKA.CO.ID JAKARTA -- PT PLN Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan (Pusenlis) kembali menyalurkan bantuan corporate social responsibility (CSR) terhadap masyarakat ibu kota. Kali ini, ratusan anak yatim dan dhuafa se-Jabodetabek mengikuti acara khitanan massal.

"Ini bentuk kepedulian kami, PLN untuk masyarakat sekitar. Dananya diambil dari internal PLN, dana CSR," kata General Manager PLN Pusenlis, Didik Sudarmadi, dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (28/6).

Bertemakan "Senyum Bahagia Mereka, Bukti Kepedulian Terhadap Sesama", sunatan massal ini digelar di Gedung PLN Pusenlis, Jalan KS Tubun, Palmerah, Jakarta Barat. Pihaknya berharap, kegiatan ini bisa membantu meringankan keluarga tidak mampu untuk menghitankan anaknya.

Sedikitnya lebih dari 110 anak yatim dan dhuafa usia 3-13 tahun mengikuti sunatan massal tersebut. Sebelum dikhitan, anak-anak itu dihibur dengan atraksi akrobat, badut, sulap dan dongeng anak. Setiap anak pun mendapat bingkisan baju koko dan sarung serta peralatan sekolah sebagai kadonya.

Didik mengatakan sebuah perusahaan atau perorangan harus bisa memberikan manfaat untuk lingkungan sekitarnya. PLN Peduli selalu mendekatkan diri kepada para pelanggannya dengan cara-cara humanis, salah satunya dengan sunatan massal itu.

Dia mengatakan, unit-unit PLN di daerah lain pun melakukan hal serupa untuk menyalurkan bantuannya. Pemilihan Jakarta selain karena lokasi kantor PLN Pusenlis ada di kawasan KS Tubun, juga karena di tempat ini cukup dipadati penduduk dengan beragam karakter. Terlebih, penduduk di kawasan padat memiliki tingkat kesejahteraan yang tak merata.

"Meskipun Jakarta Pusat, ini adalah wilayah yang padat. Tingkat kesejahteraannya juga tidak merata. Makanya yang disasar adalah mereka yang tidak mampu," kata Didik.

Pipit (32 tahun) dan Safi'i (31 tahun), warga Jalan C1 RT08 /10, Jatipulo, Palmerah, Jakarta Barat, mengaku sangat terbantu dengan adanya sunatan massal tersebut. Pasangan muda ini sempat kebingungan, ketika anak sulungnya, Ihsan Pratama Yudha, (5 tahun), selalu merengek minta dikhitan.

"Anaknya sudah minta sejak lama, ingin disunat. Dia masih lima tahun, belum sekolah. Jadinya, kita harus menabung dulu untuk memenuhi permintaannya," kata Safi'i.

Dia berharap, bantuan tersebut menjadi berkah buat anaknya kelak. Apalagi, PLN memberikan hiburan dan cenderamata kepada anaknya sehingga anak-anak tidak merasa takut dan gembira ketika akan dikhitan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA