Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Neraka Spanyol di Maracana

Kamis 28 Jun 2018 14:24 WIB

Rep: Febrian Fachri/ Red: Israr Itah

 Alexis Sanchez (kedua kanan) dari Chile dalam aksi selama Piala Dunia FIFA 2014 grup B pertandingan babak penyisihan antara Spanyol dan Chile di Estadio do Maracana di Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (18/6).  (EPA /Abedin Taherkenareh).

Alexis Sanchez (kedua kanan) dari Chile dalam aksi selama Piala Dunia FIFA 2014 grup B pertandingan babak penyisihan antara Spanyol dan Chile di Estadio do Maracana di Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (18/6). (EPA /Abedin Taherkenareh).

Foto: EPA /Abedin Taherkenareh
Berstatus sebagai juara bertahan Piala Dunia 2010, La Roja terbenam pada 2014.

REPUBLIKA.CO.ID, RIO DE JANEIRO -- Jerman secara mengagetkan tersingkir sejak dini di Piala Dunia 2018. Tim Panzer kalah di laga terakhir penyisihan grup F dari Korea Selatan di Stadion Kazan, Rabu (27/6) malam WIB dengan skor 2-0. Kekalahan itu membuat Jerman turun ke posisi terbawah klasemen grup F dengan nilai tiga, kalah selisih gol dari Korea Selatan yang juga punya nilai sama. 

Jerman pun menjadi buah bibir usai kegagalan mengejutkan. Karena ini menjadi sejarah bagi negara penguasa Eropa sebelum Perang Dunia II  itu. Baru pertama bagi Jerman merasakan gagal lolos dari penyisihan grup Piala Dunia sejak 1990. 

Kekalahan Jerman ini meneruskan tradisi kalahnya ang juara bertahan di penyisihan grup sejak 2010 lalu. Pada Piala Dunia Afrika Selatan, Italia yang menjadi juara bertahan Piala Dunia 2006 keok dari penyisihan grup yang berisikan Paraguay, Slowakia, dan Selandia Baru. Ketika itu, Italia juga senasib dengan Jerman sekarang yaitu menghuni posisi terbawah klasemen Grup F. 

Empat tahun berselang, giliran Spanyol apes. Berstatus sebagai juara bertahan Piala Dunia 2010, La Roja terbenam pada Piala Dunia 2014 Brasil.

Sebelum berlaga di Brasil, La Roja mendapatkan sorotan karena tak bermain layaknya tim juara Piala Dunia pada laga pemanasan. Bermaterikan skuat juara Piala Eropa 2012, Spanyol seperti kehilangan determinasi. Alhasil, tim asuhan Vicente Del Bosque dilibas Belanda 1-5 di Itaipava Arena Fonte Nova. Ini kekalahan terbesar kedua Spanyol sepanjang sejarah Piala Dunia. 

Walau sempat terhenyak, Spanyol tetap optimistis. Sebab, saat berjaya empat tahun sebelumnya, La Roja juga kalah pada laga pembuka (0-1 dari Swiss) namun kemudian lolos sebagai juara grup dan tampil sebagai kampiun. 

Peluang Spanyol lolos dapat terjaga asalkan bisa menekuk Cile di Stadion Maracana, Rio de Janeiro. Andai gagal, Andres Iniesta dkk harus mengepak koper lebih cepat.

Kondisi ini ternyata menjadi tekanan bagi Spanyol. Terlebih menghadapi lawan yang bermain dengan disiplin tinggi. Alih-alih mendominasi laga dan mencetak gol, gawang Spanyol justru dua kali kebobolan pada babak pertama lewat Eduardo Vargas dan Charles Aranguiz.

Spanyol tampil serba salah. Andres Iniesta dkk berusaha menciptakan peluang, namun tak ada yang menghasilkan. Beberapa peluang emas melayang. Rapatnya pertahanan tim asuhan Jorge Sampaoli membuat Spanyol harus gigit jari dan keluar dari lapangan stadion bersejarah Brasil itu dengan kepala tertunduk. Stadion Maracana menjadi neraka bagi Spanyol.

Spanyol mengakhiri penyisihan grup B di posisi tiga. Pada partai terakhir, La Roja mengalahkan Australia 3-0 di Arena da Baixada, Curitiba. Gol David Villa, Juan Mata dan Fernano Torres tak cukup menghindarkan Spanyol dari hujan kritikan. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA