Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Kamboja: 50 Ribu Pengamat Asing akan Pantau Pemilu

Rabu 27 Jun 2018 19:03 WIB

Red: Nidia Zuraya

Bendera Kamboja (Ilustrasi)

Bendera Kamboja (Ilustrasi)

Perdana Menteri Hun Sen diperkirakan akan menang telak dalam pemilu tahun ini

REPUBLIKA.CO.ID, PHNOMPENH -- Panitia Pemilihan Umum (Pemilu) Kamboja pada Rabu (27/6) mengatakan, sebanyak 50 ribu pengamat dari Cina, Myanmar dan Singapura akan memantau pemilu pada Juli mendatang. Perdana Menteri Hun Sen diperkirakan akan menang telak sesudah partai oposisi utama dibubarkan tahun lalu.

Kamboja mengundang pengamat antarbangsa untuk memantau pemungutan suara itu, tapi pengawas pemilihan umum setempat, termasuk Panitia Pemilihan Bebas dan Adil di Kamboja (COMFREL) mendesak pengamat antarbangsa berpikir dua kali sebelum menerima.

Korn Savang, koordinator pemantauan COMFREL, mengkritik ketiga negara itu, yang tidak memiliki cukup pengalaman. "Cina tidak demokratik dan tidak memiliki pengalaman dengan pemilihan umum, Singapura juga tidak dan Myanmar baru mulai berdemokrasi, sehingga masalah rawan adalah penilaian mereka. Pada tingkat apa kami dapat memercayainya," kata Korn kepada Reuters.

Hun Sen dan sekutunya telah melakukan tindakan terhadap penentangnya, termasuk anggota oposisi Partai Penyelamatan Bangsa Kamboja (CNRP), dalam yang dikatakan lawannya adalah upaya memperpanjang kepemimpinannya setelah 33 tahun berkuasa. CNRP dibubarkan dan anggota parlemennya dilarang berpolitik pada November sesudah Mahkamah Agung memutuskan bahwa partai itu mencoba menggulingkan pemerintah, yang dibantah CNRP.

Panitia Pemilihan Kamboja (NEC) menyatakan peranserta pengamat asing menunjukkan bahwa pemilihan umum itu terbuka dan menyeluruh. "Itu menunjukkan bahwa pemilihan umum tersebut terbuka, peransertanya luas dan banyak kepercayaan dalam pemilihan umum itu," kata juru bicara NEC, Hang Puthea, kepada Reuters pada Rabu (27/6).

NEC mengatakan meninjau permintaan tambahan 800 pengamat asing dari lembaga swadaya masyarakat, yang berusaha memantau pemilihan umum pada 29 Juli itu.

Rhona Smith, ahli hak asasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Kamboja, menyatakan pemilihan umum mendatang tidak murni jika CNRP dilarang mengambil bagian.

sumber : Antara/Reuters
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA