Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

PBB: Gaza 'di Ambang Perang'

Selasa 19 Jun 2018 19:46 WIB

Rep: Winda Destiana Putri/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Warga Gaza mengantar jenazah perawat Palestina Razan Najjar (21 tahun) yang ditembak Israel, Sabtu (2/6).

Warga Gaza mengantar jenazah perawat Palestina Razan Najjar (21 tahun) yang ditembak Israel, Sabtu (2/6).

Foto: AP Photo/Khalil Hamra
PBB mengecam pembunuhan anak-anak, wartawan dan petugas medis

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah memperingatkan bahwa peningkatan kekerasan di Jalur Gaza menempatkan wilayah itu ke zona perang. Ia mendesak Israel dan Hamas untuk segera melakukan gencatan seperti 2014 silam, mengingat pasokan bantuan ke Gaza juga mulai menipis. 

Kepala PBB dalam sebuah laporan juga menyatakan keterkejutannya Israel sudah terang-terangan dan semakin agresif menyerang warga Palestina di Gaza. Dia mengatakan harusnya Israel mampu menahan diri, kecuali pada saat terakhir. Laporan itu dikirim ke dewan pekan lalu sebelum pertemuan pada hari Selasa tentang konflik Israel-Palestina.

"Pembunuhan anak-anak, serta wartawan yang diidentifikasi secara jelas dan staf medis oleh pasukan keamanan selama demonstrasi sangat tidak dapat diterima," kata Guterres. Mereka harus diizinkan untuk melakukan tugasnya tanpa takut mati atau cedera." Israel belum menanggapi tuduhan itu.

Guterres juga mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa dia dengan tegas mengecam langkah-langkah semua pihak yang telah membawa masyarakat Palestina ke tempat yang berbahaya dan rapuh. Dia juga memperingatkan bahwa tindakan oleh Hamas dan kelompok Palestina lainnya tidak hanya mempertaruhkan nyawa Palestina dan Israel tetapi upaya untuk mengembalikan martabat dan prospek masa depan yang dapat dihuni untuk Palestina di Gaza.

Sejak protes yang berlangsung 30 Maret silam, setidaknya 130 warga Palestina telah tewas dan 13 ribu lainnya terluka oleh tembakan tentara Israel. Mayoritas orang yang tewas dan terluka tidak bersenjata, menurut pejabat kesehatan Gaza. Dua wartawan Palestina tewas saat meliput aksi protes pada April dan seorang petugas medis berusia 21 tahun ditembak mati pada awal Juni.

Guterres memperbarui seruannya untuk penyelidikan independen atas kematian penembakan di Gaza. Israel, yang mengatakan Hamas telah menggunakan protes sebagai penutup untuk serangan di pagar perbatasan, telah menolak banding dan berpendapat bahwa penggunaan kekuatan dibenarkan untuk mempertahankan perbatasannya.

Para demonstran telah menekan tuntutan untuk hak mereka dikembalikan agar bisa berada di sebuah negara yang tenang dan damai. Sudah hampir 70 tahun mereka hidup terpisah dari keluarga dan di medan perang. Lebih dari 700 ribu orang Palestina diusir atau melarikan diri dalam perang 1948 atas ciptaan Israel. Dua pertiga dari dua juta penduduk Gaza adalah pengungsi internal.

Namun dia mengatakan bahwa hanya dengan mengubah kenyataan di lapangan, dengan mengakui dan mengatasi penderitaan Palestina di Gaza, memastikan bahwa semua pihak mengomentari pemahaman gencatan senjata 2014, dan mendukung upaya yang dipimpin Mesir untuk mengembalikan kontrol pemerintah Palestina yang sah. Serta mengakui Gaza sebagai daerah yang dapat dihuni warga Palestian dengan layak, tanpa perang yang mematikan, dilansir laman Aljazirah. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA