Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Jumlah Kasus DBD di Kota Yogyakarta Menurun

Senin 11 Jun 2018 12:02 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Hafil

Delegasi negara Indonesia mengamati replika nyamuk saat kampanye Anti-DBD di salah satu stan 'ASEAN Dengue Conference', di Jakarta.

Delegasi negara Indonesia mengamati replika nyamuk saat kampanye Anti-DBD di salah satu stan 'ASEAN Dengue Conference', di Jakarta.

Foto: Antara/Yudhi Mahatma
Penelitian ini diharap bisa menjadi rujukan dalam upaya mengurangi kasus DBD.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang ditularkan nyamuk. Hal ini memantik negara-negara ASEAN menentukan 15 Juni 2018 sebagai hari Demam Berdarah Dengue se-ASEAN Atau ASEAN Dengue Day.

Tema Masyarakat ASEAN Bersatu Melawan Dengue diambil sebagai upaya tingkatkan kesadaran akan pentingnya tindakan pengendalian dan pencegahan DBD. Di Kota Yogyakarta, salah satu kelompok penelitinya merupakan Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta.

Penelitian demi mengurangi angka kematian akibat nyamuk Aedes Aegypti menggunakan bahan bakteri alami Wolbachia demi menghambat perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk. Telur nyamuk yang sudah mengandung bakteri disebar di rumah-rumah di Kota Yogyakarta.

"Saat ini, kami telah menyebar nyamuk ber wolbachia hampir separuh Kota Yogyakarta," kata peneliti utama EDP, Adi Utarini, beberapa waktu lalu.

Walau masih tahap penelitian, Adi meyakini hasil penelitian ini nantinya bisa menjadi rujukan dalam upaya pengurangan kasus demam berdarah di Indonesia. Ia berharap, ke depan Wolbachia dapat menangani penyakit lainnya tapi kami saat ini fokus dengan DBD.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Yudiria Amelia menyebutkan, kasus DBD tahun ini mengalami penurunan hingga Mei yang ada 40 kasus. Angka itu lebih sedikit dibanding periode tahun lalu.

"Periode yang sama pada tahun lalu mencapai 350 kasus, tapi walau turun pengendalian DBD tetap harus dijalankan," ujar Yudiria.

Sehubungan adanya penurunan jumlah kasus DBD, pihaknya tengah bekerja sama dengan EDP Kota Yogyakarta untuk melaksanakan studi. Itu dilakukan demi mengetahui dampak pelepasan nyamuk berwolbachia dalam skala luas terhadap penurunan kasus DBD.

Penelitian melibatkan 17 puskesmas dan pustu di Kota Yogyakarta dan satu Puskesmas di Kabupaten Bantul. Mereka merekrut pasien demam yang berobat ke puskesmas. Peneliti EDP lain, Riris Andono Ahmad, mengaku sudah merekrut lebih dari 1.400 responden.

"Sekitar 1.408 responden hingga 7 Juni lalu dari target 10 ribu responden pada akhir 2019 nanti. Dari rekrutmen ini, kita akan memproleh perbandingan kasus DBD di wilayah-wilayah pelepasan wolbachia," kata Riris.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA