Pusat Astronomi UEA Prediksi Idul Fitri Jatuh pada 15 Juni

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Andi Nur Aminah

 Kamis 07 Jun 2018 13:38 WIB

 Petugas melakukan rukyatul hilal atau mencari posisi hilal (ilustrasi) Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang Petugas melakukan rukyatul hilal atau mencari posisi hilal (ilustrasi)

Kemungkinan besar bulan akan sulit dilihat dengan mata telanjang saat terbenam di UEA

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI -- Pusat Astronomi Internasional Abu Dhabi mengatakan bahwa sebagian besar negara Muslim akan mengamati bulan Syawal pada Kamis (14/6). Hal itu berarti, hari pertama perayaan Idul Fitri akan dirayakan keesokan harinya, Jumat (15/6).

Di Uni Emirat Arab (UEA), kemungkinan besar bulan akan sulit dilihat dengan mata telanjang saat terbenam sekitar 41 menit setelah matahari terbenam. Menurut pusat astronomi tersebut, bulan sabit akan terlihat oleh teleskop di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara dan Eropa.

Di sebagian besar dunia Arab, bulan sabit tidak dapat dengan mudah dilihat dengan mata telanjang. Kecuali, di daerah barat jauh di Maroko Selatan, Mauritania, dan Afrika barat. Sementara sebagian besar benua Amerika akan dapat melihat bulan sabit dengan mata telanjang.

Bulan akan muncul setelah matahari terbenam sekitar 54 menit di Nouakchott, Mauritania; 49 menit setelah matahari terbenam di Rabat, Maroko; 46 menit di Mogadishu, Khartoum, Tripoli dan Aljazair; 45 menit di Djibouti dan Tunis; 44 menit di San'aa; 43 menit di Kairo; 42 menit di Riyadh dan Amman dan Jerusalem; 41 menit di Beirut, Damaskus, Manama dan Abu Dhabi; dan 40 menit setelah matahari terbenam di Baghdad, Kuwait, dan Muscat.

Sebelumnya, Pusat Astronomi Sharjah mengatakan bahwa bulan baru atau lunar Syawal diperkirakan akan muncul pada Rabu (13/6) sekitar pukul 11.43 waktu UEA. Wakil Direktur Jenderal Pusat Astronomi Sharjah, Ibrahim Al Jarwan, mengatakan bulan akan dipantau setelah matahari terbenam pada Kamis (14/6). Sehingga, pada Jumat (15/6) akan menjadi hari pertama Idul Fitri sesuai perhitungan astronomi.

Al Jarwan mengatakan, suhu diperkirakan sekitar 41 derajat Celcius selama Juni. Sementara suhu minimum diperkirakan mencapai 26 derajat. "Wilayah ini akan dipengaruhi oleh angin panas setiap 10 hari hingga 14 hari, dengan suhu naik tiga hingga lima derajat di atas normal selama dua hingga lima hari selama musim panas dari Juni hingga akhir Agustus," kata Al Jarwan, dilansir di Khaleej Times, Kamis (7/6).

Sebelumnya, pusat astronomi tersebut telah meramalkan bahwa Bulan Suci Ramadan akan jatuh pada 17 Mei. Sementara jam puasa akan melebihi 13 jam sehari. Bulan baru Bulan Suci Ramadhan akan muncul pada Selasa (15/5) sekitar pukul 15.48 waktu UEA, dan menghilang dua menit sebelum matahari terbenam pada malam yang sama.

Pusat itu mengatakan, tidak mungkin untuk melihat bulan baru setelah matahari terbenam di UEA. Bulan akan tetap terlihat selama satu jam dan 16 menit saat matahari terbenam. Namun, bulan baru pasti akan terlihat setelah matahari terbenam pada Rabu (16/5). "Dengan demikian, Kamis, 17 Mei, akan menjadi hari pertama Ramadan sesuai perhitungan astronomi," demikian pernyataan pusat astronomi sebelum Ramadhan.

Saat itu, mereka mengatakan bahwa periode puasa akan berlangsung 13,25 jam pada awal Ramadhan. Jam puasa kemudian akan meningkat menjadi 13,42 jam dan mencapai 15 jam pada akhir bulan.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X