Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Meski Menuai Polemik, Kemenag tak akan Cabut Daftar Mubaligh

Senin 21 May 2018 14:58 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Andi Nur Aminah

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin didampingi Sekjen Kemenag Nur Syam (kiri)

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin didampingi Sekjen Kemenag Nur Syam (kiri)

Foto: Republika/Prayogi
Kemenang akan merilis lagi daftar mubaligh lanjutan pada pekan ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) sebelumnya telah merilis 200 daftar mubaligh yang bisa dijadikan referensi bagi umat Islam Indonesia. Langkah Kemenag ini lalu menjadi polemik di tengah masyarakat karena ada beberapa mubaligh pilihan umat yang justru belum masuk daftar tersebut. Lalu ada juga beberapa mubaligh yang namanya masuk dalam daftar rekomendas itu, mengaku keberatan namanya ada dalam daftar.

Kendati demikian, Sekjen Kemenag Nur Syam menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mencabut daftar 200 mubaligh tersebut. Justru, menurut dia, pihaknya akan merilis lagi daftar mubaligh lanjutan pada pekan ini.

"Ya, nanti kita akan teruskan ini, akan kita teruskan untuk rilis berikutnya. Kalau rilis awal 200, itu kita berharap minggu ini ada rilis yang kedua, dan berikutnya rilis ketiga dan keempat," ujar Nur Syam saat dihubungi Republika.co.id, Senin (21/5).

Menurut dia, rilis daftar mubaligh yang kedua juga akan didasarkan atas saran tokoh agama, ormas Islam, dan masyarakat. Menurut dia, Kemenag akan tetap menerima masukan dari masyarakat baik yang kontra ataupun yang pro terhadap pembuatan daftar mubaligh tersebut. "Tentu kita akan dengarkan saran-saran yang disamapaikan masyarakat, tokoh masyarakat dan tokoh agama," ucapnya.

Dia menambahkan, pemerintah sebenarnya bertujuan baik dalam pembuatan daftar mubaligh itu. Salah satunya yaitu untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait dai-dai yang memenuhi tiga kreteria yang ditetapkan Kemenag. Yaitu mereka yang mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, memiliki reputasi dan pengalaman yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi.

"Sebenarnya tergetnya itu saja. Jadi kita tidak berupaya berlebih-lebihan kecuali hanya itu (memberikan informasi). Perkara kemudian ada kontroversi ada yang masuk dan ada yang belum, tadi kan saya sampaiakan ini kan masih rilis awal," katanya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA