Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Palestina: Yerusalem Kunci Perdamaian

Rabu 18 Apr 2018 13:29 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Pengunjuk rasa melambaikan bendera Palestina saat terjadi bentrokan di dekat perbatasan dengan Israel di timur Kota Gaza. Demonstran memprotes keputusan Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Pengunjuk rasa melambaikan bendera Palestina saat terjadi bentrokan di dekat perbatasan dengan Israel di timur Kota Gaza. Demonstran memprotes keputusan Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Foto: EPA-EFE/MOHAMMED SABER
Palestina meneguhkan posisinya menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya kelak.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Utusan Otoritas Palestina untuk Amerika Serikat (AS) Husam Zomlot mengatakan tak akan pernah ada perdamaian antara negaranya dengan Israel tanpa menyertakan Yerusalem. Palestina telah meneguhkan posisinya menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya kelak.

"Yerusalem adalah kunci perdamaian. Tanpa Yerusalem tidak akan pernah ada solusi dua negara (Palestina dengan Israel)," kata Zomlot, dikutip laman Al Araby pada Selasa (17/4).

Ia juga mengomentari perihal klaim Israel yang menyatakan Yerusalem layak menjadi ibu kotanya karena hubungan historis Yahudi dengan kota tua tersebut telah terjalin selama ribuan tahun. Ia tak menerima argumentasi dan klaim tersebut.

"Yerusalem telah selama ribuan tahun terbuka, inklusif, beragam. Yahudi, Kristen, dan Muslim hidup berdampingan, hidup bersama. Yerusalem akan selalu menolak klaim universalitas," ujar Zomlot.

Ia sendiri tak akan mengakui dan merayakan hubungan Yahudi ke Yerusalem. "Begitu Yerusalem Timur menjadi ibu kota (Palestina), kami baru akan mengakui dan merayakan hubungan Yahudi terhadap Yerusalem," ucapnya.

Pemerintah AS telah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember tahun lalu. AS menjadi negara pertama yang melakukan hal tersebut.

Pengakuan ini segera ditentang dan diprotes, tidak hanya oleh Palestina, tetapi juga negara-negara Arab dan Muslim lainnya. Pengakuan AS dinilai melanggar berbagai kesepakatan dan resolusi internasional tentang Yerusalem.

Sejak pengakuan tersebut, Palestina memutuskan menarik diri dari perundingan damai dengan Israel yang dimediasi AS. Palestina menilai AS tak lagi menjadi mediator yang netral karena terbukti bias dan membela kepentingan Israel.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA