Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Jokowi: Politik Indonesia Bukan Politik yang Saling Hujat

Rabu 18 Apr 2018 00:30 WIB

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Reiny Dwinanda

Presiden Joko Widodo

Presiden Joko Widodo

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Jokowi mengajak pemuda untuk menjunjung budaya politik yang beretika.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para pemuda yang terjun dan berkeinginan masuk dalam dunia politik agar mampu menjunjung budaya politik yang memiliki etika. Budaya politik di Indonesia harus dilakukan dengan penuh kesantunan.

"Bukan politik yang membawa perpecahan, bukan politik yang saling menghujat, bukan politik yang saling mencela, bukan politik yang saling memaki. Itu bukan budaya politik Indonesia," kata Jokowi saat menghadiri peringatan hari lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-58, di Kota Bandung, Selasa (17/4).

Jokowi menjelaskan, budaya politik di Indonesia sejak dulu adalah budaya politik yang penuh etika dan kesopanan. Jika ada pihak tertentu yang mengajak pemuda untuk memiliki budaya politik yang menghujat sebaiknya dihindari. "Jangan mau diajak ke arah politik seperti itu," ujarnya.

Di sisi lain, Jokowi meminta para pemuda bisa bersikap optimistis dengan kemajuan yang dialami Indonesia. Optimisme harus muncul karena negara lain saja melihat ada perkembangan yang baik dari Indonesia dalam hal perekonomian.

"Dari hitung-hitungannya Bank Dunia, hitung-hitungan dan kalkulasi Bappenas, menunjukkan bahwa di tahun 2030 kita akan menjadi 10 besar negara dengan ekonomi terkuat di dunia," ujar Jokowi.

Jika hitungan tersebut bisa dijabarkan oleh pemerintah dengan dukungan dari masyarakat maka Indonesia bahkan bisa masuk dalam jajaran tujuh besar negara dengan perekonomian terbaik pada 2045.

"Jadi saya titip sekali lagi marilah kita bangun optimisme yang kuat sehingga apa yang dikalkulasi, apa yang sudah dihitung oleh Bank Dunia, Bappenas betul-betul menjadi sebuah kenyataan," ujarnya.

Jokowi juga meminta agar para pemuda mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan global khususnya revolusi 4.0 yang sudah di depan mata. Era robotik, perkembangan informasi, teknologi yang semakin canggih membuat semua pihak harus mempersiapkan diri.

Beberapa waktu lalu, akun Partai Gerindra mengunggah sebuah video yang berisi pidato Prabowo Subianto. Pada salah satu bagiannya, Prabowo mengutip kajian luar negeri yang memprediksi bahwa Indonesia akan bubar pada 2030.

"Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung! Mereka ramalkan kita ini bubar," kata Prabowo.

Prabowo menjelaskan isi pidatonya tentang Indonesia bubar pada 2030 mengutip prediksi para ahli di luar negeri. "Jadi, itu ada tulisan dari luar negeri. Banyak pembicaraan seperti itu di luar negeri," kata Prabowo kepada wartawan, setelah menjadi pembicara kunci dalam acara "Wadah Global Gathering" di Jakarta, Kamis (22/3).

Prabowo mengatakan, di luar negeri ada yang namanya scenario writing. Scenario writing itu, kata dia, bentuknya mungkin novel, tetapi ditulis oleh ahli-ahli intelijen strategis.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA