Saturday, 13 Rajab 1444 / 04 February 2023

Pakistan Tahan Suku Bunga Setelah Rupee Terdevaluasi

Sabtu 31 Mar 2018 21:17 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Budi Raharjo

Bendera Pakistan.

Bendera Pakistan.

Foto: EPA
Jatuhnya rupee sudah terlihat dengan naikknya harga ritel.

REPUBLIKA.CO.ID,ISLAMABAD -- Bank Sentral Pakistan (SBP) menahan suku bunga meski rupee sudah dua kali terdevaluasi dalam empat bulan. SPB menyampaikan pihaknya menahan tingkat suku bunga perbankan pada level enam persen.

Keputusan itu di luar prediksi sebagian besar ekonom yang Bloomberg survei. SBP sendiri sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Januari 2018, kenaikan suku bunga untuk pertama kalinya dalam empat tahun belakangan.

Penyesuian ini SBP tetapkan dengan mempertimbangkan fleksibilitas tingkat suku bunga lebih besar nanti. "Pengelolaan moneter aktif dan perbaikan yang terukur pada ekspor dan remitansi kami harap memberi hasil baik dalam jangka menengah tanpa merisikokan stabilitas," demikian pernyataan resmi SBP seperti dikutip Reuters, Jumat (30/3).

Keputusan ini juga berlawanan dengan pola devaluasi rupee sejak Desember 2017 lalu. Penguatan dolar AS sendiri secara merata menekan semua mata uang Asia. Namun bagi Pakistan, hal itu jadi mengkhawatirkan karena defisir transaksi berjalan mereka sudah mencapai 50 persen per Februari 2018.

 

Meskipun di sisi lain, inflasi juga bertahan di level 3,8 persen pada Februari 2018. "Jatuhnya rupee sudah terlihat dengan naikknya harga ritel, tapi inflasi masih terkendali," kata analis senior Shajar Capital Pakistan Pvt, Yawar uz Zaman, sebelum keputusan SBP diumumkan.

Pemerintah Pakistan akan mengumumkan APBN tahunannya bulan depan sebelum satu periode pemerintahan saat ini berakhir dan pemilu dihelat pada Juli atau Agustus mendatang. Beberapa analis mengkhawatirkan pertumbuhan utang Pakistan, tergerusnya cadangan devisa, dan posisi mereka di komunitas global.

Sehingga, Pakistan diprediksi akan mengakses dukungan keuangan dari IMF atau Cina untuk membiayai rencana pembangunan investasi infrastruktur mereka sebesar 60 miliar dolar AS (Rp 825 triliun). "Kebijakan moneter, fiskal, dan pelemahan rupee yang lebih baik akan membantu menekan defisit akun berjalan dan menurunkan risiko pasar," kata ekonom senior Standard Chartered Bank di Dubai, Bilal Khan.

Sejauh ini, Khan melihat Pemerintah Pakistan telah berusaha menghindari kebijakan yang tidak menguntungkan dengan mengakses sumber dana dari pasar modal. Namun hal itu bisa jadi tantangan di 2018 ini. Standard Chartered sendiri merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Pakistan pekan ini menjadi 4,8 persen dari sebelumnya 5,5 persen.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA