Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Jaksa Brasil Mulai Selidiki Cambridge Analytica

Kamis 22 Mar 2018 15:15 WIB

Red: Nidia Zuraya

Konsultan politik Cambridge Analytica terlibat dalam kasus bocornya data 50 juta pengguna Facebook.

Konsultan politik Cambridge Analytica terlibat dalam kasus bocornya data 50 juta pengguna Facebook.

Foto: BBC
Cambridge Analytica terlibat dalam kasus bocornya data 50 juta pengguna Facebook.

REPUBLIKA.CO.ID, BRASILIA -- Jaksa Brasil pada Rabu (21/3) mengatakan memulai penyelidikan mengenai kemungkinan konsultan politik Cambridge Analytica di London bertindak secara gelap di Brasil. Penyelidikan ini dilakukan menyusul bocornya data 50 juta pengguna Facebook yang melibatkan Cambridge Analytica.

Jaksa Distrik Federal Brasil, yang mencakup kota Brasilia, mengatakan dalam pernyataan tertulis bahwa mereka akan menyelidiki apakah perusahaan tersebut, melalui kemitraannya dengan kelompok konsultan bermarkas di Sao Paulo, yakni A Ponte Estrategia Planejamento E Pesquisa Ltda, secara gelap menggunakan data dari jutaan orang Brasil dalam menciptakan penampang psikografis. Mitra kelompok konsultan tersebut tidak menanggapi panggilan.

Jaksa satuan data khusus akan melihat apakah ada pelanggaran keamanan, yang memungkinkan perusahaan tersebut mengambil data pribadi secara tidak sah. Menurut beberapa perhitungan, Brasil adalah pasar terbesar ketiga Facebook.

Regulator dan legislator di Amerika Serikat dan Eropa telah meminta penjelasan tentang bagaimana perusahaan konsultan yang bekerja pada kampanye pemilihan Presiden AS Donald Trump itu memperoleh akses untuk data pada 50 juta pengguna Facebook demi membangun profil pemilih.

Laporan pada Senin (19/3) mengatakan, perusahaan konsultan tersebut kemungkinan telah memperoleh akses data pengguna secara tidak benar. Sejak saat itu Cambridge Analytica menangguhkan kepala eksekutifnya, Alexander Nix.

Sementara pemimpin eksekutif sekaligus pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, telah meminta maaf. Ia mengatakan perusahaannya membuat kesalahan dalam penanganan data pengguna.

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA