Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Presiden Bulgaria akan Kunjungi Palestina, Ini Agendanya

Kamis 22 Mar 2018 11:40 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Presiden Bulgaria Rumen Radev

Presiden Bulgaria Rumen Radev

Foto: EPA
Peran AS dan praktik agresif Israel akan dibahas kedua presiden.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Presiden Republik Bulgaria Rumen Radev dijadwalkan mengunjungi Palestina pada Kamis (22/3). Agenda itu merupakan kunjungan perdananya ke Palestina sejak menjabat sebagai presiden pada 2017.

Radev akan melakukan pertemuan dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Penasihat diplomatik Abbas, Majdial-Khalidi, mengatakan, kunjungan Radev tersebut penting karena menegaskan kedalaman hubungan antara Palestina dan Bulgaria. Selain itu, Bulgaria diketahui merupakan presiden bergilir Dewan Uni Eropa.

Menurut al-Khalidi, Abbas akan mengadakan pertemuan dengan Radev di kantor kepresidenan di Ramallah. "Kedua presiden akan membahas proses politik dan peran Amerika Serikat (AS), praktik agresif Israel, serta situasi regional dan isu-isu yang menjadi kepentingan bersama," ungkap al-Khalidi, dilaporkan laman kantor berita Palestina, WAFA.

Dalam kesempatan tersebut, Abbas dan Radev akan membahas pula tentang cara-cara mempromosikan hubungan bilateral antara kedua negara serta mengaktifkan komite kementerian bersama. Pembentukan komite kementerian bersama itu diperkirakan akan dibahas dalam pertemuan selama paruh kedua tahun ini.

Sejak AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017, Palestina segera mengupayakan upaya diplomatik lain guna menyelesaikan perselisihan dengan Israel. Ketika berpidato di sidang Majelis Umum PBB Februari lalu, Abbas menyerukan pembentukan mekanisme multilateral guna menyelesaikan konflik Palestina dan Israel. Mekanisme itu harus melibatkan PBB, Uni Eropa, Rusia, AS, dan negara-negara Arab.

Abbas memang memutuskan menarik Palestina dari perundingan damai dengan Israel yang dimediasi AS. Sebab, menurutnya AS tak lagi menjadi mediator yang netral dan dapat diandalkan karena terbukti membela kepentingan Israel.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA