Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Dinkes Sleman: Keberadaan Sarang Nyamuk Bisa Dihindari

Senin 19 Mar 2018 10:20 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Winda Destiana Putri

Nyamuk

Nyamuk

Foto: AP/LM Otero
Nyamuk DBD itu senang tempat gelap dan lembap, tapi suka hinggap di tempat bersih.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Keberadaan sarang-sarang nyamuk di dalam rumah bisa dihindari. Itu ditekankan lagi Kepala Seksi Survielans dan Imunisasi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Mujiyana, kepada masyarakat Kabupaten Sleman.

"Nyamuk DBD itu senang tempat gelap dan lembap, tapi suka hinggap di tempat yang bersih, biasakan selalu membuka jendela pagi-pagi," kata Nujiyana saat kegiatan GJB dan PSN baik di Dusun Serangan dan Dusun Kaliabu beberapa waktu lalu.

Mujiyana mengungkapkan, tujuannya tidak lain agar ada pencahayaan dan udara yang ada di dalam rumah dapat berganti. Setelah itu, ia menuturkan jika perlu ada penataan ruangan seperti yang pernah dinilai Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Pasalnya, ia melihat selama ini di dalam rumah tangga masih banyak barag-barang yang tidak ditata sedemikian rupa. Karenanya, Mujiyana mengimbau agar masyarakat mau membiasakan gaya hidup bersih karena penyebaran sarang nyamuk memang dapat dicegah.

"Sehingga, bisa menyebabkan penyakit baik yang menular dan tidak menular," ujar Mujiyana.

Pada monitoring PSN yang dilakukan di Dusun Serangan, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Pokjanal DBD telah memeriksa 66 rumah yang tersebar di empat RT. Dari 66 rumah itu, ada 20 rumah yang positif terdapat jentik nyamuk, sehingga angka bebas jentiknya 70 persen.

Sedangkan, monitoring PSN yang dilakukan di Dusun Kaliabu, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Pokjanal DBD memeriksa sebanyak 239 rumah. Ada 37 rumah yang positif terdapat jentik nyamuk, sehingga Dusun Kaliabu memiliki angka bebas jentik sekitar 84,52 persen.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Nurulhayah mengungkapkan, telah ada upaya antisipatif untuk mengatasi penyebaran penyakit DBD. Edukasi telah pula diberikan kepada masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Ia menjelaskan, saat ini Dinas Kesehatan telah mengaktifkan Pokjanal DBD mulai kabupaten, kecamatan sampai desa. Tujuannya, agar monitoring dan pemantauan jentik bisa dilaksanakan secara berkala PJB.

"Kami juga telah membentuk jumantik cilik, jumlah kelompok jumantik cilik di Kabupaten Sleman ada 46 kelompok dengan kader sebanyak 3.438 kader cilik dan remaja," ujar Nurul.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA