Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

FAO: Pola Agribisnis Baik Diterapkan di Indonesia

Jumat 09 Mar 2018 06:39 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Andi Nur Aminah

Asisten Dirjen FAO, Kundhavi Kadiresan dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di sela acara Jakarta Food Security Summit, Kamis (8/3).

Asisten Dirjen FAO, Kundhavi Kadiresan dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di sela acara Jakarta Food Security Summit, Kamis (8/3).

Foto: Kementan
Ini memberikan kontribusi besar pada masa depan pertumbuhan di bidang ekonomi pangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asisten Dirjen FAO, Kundhavi Kadiresan menyebut pola agribisnis baik diterapkan bagi negara Indonesia. Pola agribisnis disebut akan lebih banyak memberikan kontribusi besar kepada masa depan pertumbuhan di bidang ekonomi pangan.

"Di Indonesia, agribisnis telah memberi kontribusi yang lebih besar kepada PDB daripada sektor hilir pertanian, sesuai dengan pengalaman negara-negara lain ketika pertumbuhan ekonomi mengalami transformasi struktural," kata Kadiresan, saat pertemuan bilateral bersama dengan Kementrian Pertanian RI di Jakarta Food Security Summit, Kamis (8/3).

Ia juga menyebut perlu adanya pola yang mendukung petani kecil. Sebab hal itu penting dan dapat diselaraskan dengan kerja sama publik dan pihak swasta. Dia menjelaskan, banyak pengalaman dari negara lain yang mempertemukan sektor publik dan swasta yang lebih sinergis dan saling menguntungkan.

"Untuk menumbuhkan agribisnis dibutuhkan hubungan pedesaan dan perkotaan yang lebih baik, di mana diperkirakan 60 hinga 70 persen permintaan pangan di Asia saat ini berasal dari daerah perkotaan," kata dia.

Kadiresan juga mengatakan, penanganan komoditas harus optimal sehingga produk yang didistribusikan kepada konsuman tidak cepat rusak dan bisa tepat waktu dalam keadaan segar. "Membudidayakan dan menghasilkan lebih banyak pangan yang beragam dan bergizi seperti ikan, daging, buah-buahan dan sayuran di daerah pedesaan akan tidak berarti, apabila penanganan komoditas tidak optimal," tuturnya.

Ia mengajak pemerintah dan sektor swasta untuk bekerja sama melalui berbagai mekanisme untuk menciptakan rantai nilai yang memberi peluang kepada petani dan kelompoknya. Hal itu diperuntukkan agar memperoleh harga lebih tinggi atas produksi mereka. "Selain itu untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan di bidang agribisnis, terutama untuk generasi muda, dan menyediakan pangan bergizi yang segar dan terjangkau untuk masyarakat miskin baik di daerah pedesaan maupun perkotaan," kata dia.

Ia juga menekankan adanya diversifikasi sektor pertanian Indonesia yang dipersiapkan melalui peningkatan kapasitas petani juga akan menjamin peningkatan pendapatan mereka. "Masyarakat perlu menciptakan peluang bisnis yang didukung penguatan rantai nilai yang inklusif dan efisien," ujarnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA