Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Program Filantropi Pemberdayaan Umat Dikembangkan

Jumat 02 Mar 2018 11:27 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Agung Sasongko

Filantropi Islam (ilustrasi).

Filantropi Islam (ilustrasi).

Foto: Wordpress.com
Program akan fokus ke bidang-bidang kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja.

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN - Tahir Foundation menggandeng Universitas Gadjah Mada dan PP Muhammadiyah tengah mengembangkan program filantropi untuk pemberdayaan umat. Program ini akan didanai TF sebesar Rp 50 miliar per tahun atau sekitar Rp 250 miliar selama lima tahun.

 

Program akan fokus ke bidang-bidang kesehatan, pendidikan dan penciptaan lapangan kerja. Kerjasama dibangun dalam prinsip filantropi, yaitu melakukan aksi kemanusiaan untuk kebaikan bersama di dalam pemenuhan kebutuhan pokok manusia dan lingkungan.

 

Untuk memulai program, diselenggarakan talkshow bertajuk Filantropi untuk Pemberdayaan Umat di Grha Sabha Pramana. Talkshow dihadiri Pendiri Tahir Foundation Dato' Sri Tahir, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Rektor UGM Panut Mulyono.

 

Kerjasama ditandai penandatanganan nota kesepahaman antara Tahir Foundation, PP Muhammadiyah dan UGM. Sebagai tuan rumah, Rektor UGM, Panut Mulyono melihat, kerjasama ini sangat penting dan strategis di dalam merajut kembali kebangsaan Indonesia.

 

Setidaknya, itu bisa dilakukan melalui empat aspek, dengan yang pertama kehadiran TF melalui program filantropi langsung menyasar kelompok masyarakat lapis bawah. Kedua, program bertujuan mengurangi kesenjangan antar kelas sosial.

 

"Sehingga, dapat memperkuat integrasi sosial," kata Panut, Kamis (1/3).

 

Ketiga, program dapat meningkatkan hubungan saling percaya, terutama kelompok identitas agama, suku, ras dan golongan. Terakhir, filantropi akan mengembangkan model pemberdayaan masayrakat sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi.

 

Kerjasama turut didasarkan kepad aprinsip ekonomi dan independensi ketiga elemen. Baik TF, Muhammadiyah maupun UGM, merupakan lemabga yang otonom, memiliki independensi bertindak dan kepentingan yang mandiri.

 

"Kerjasama ini didasarkan prinsip saling percaya kalau masing-masing memiliki komitmen untuk mewujudkan kebaikan bersama sebagai bangsa dan umat manusia sesuai kapasitasnya," ujar Panut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA