Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Komisi Keselamatan Konstruksi: Kecelakaan Bukan karena BUMN

Rabu 21 Feb 2018 19:01 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nur Aini

Suasana kondisi tiang girder proyek pembangunan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang ambruk di Jalan DI Panjaitan, Jakarta, Selasa (20/2).

Suasana kondisi tiang girder proyek pembangunan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang ambruk di Jalan DI Panjaitan, Jakarta, Selasa (20/2).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Proyek pembangunan jalan layang dihentikan sementara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi Keselamatan Konstruksi Syarief Burhanuddin menegaskan terjadinya kecelakaan konstruksi pada beberapa proyek infrastruktur bukan karena digarap BUMN. Menurutnya, dalam kasus kegagalan konstruksi yang terjadi harus dilihat dari konteks nasional.

"Bukan melihat dari siapa yang mengerjakan, melainkan melihat dari apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya," katanya, di Jakarta, Rabu (21/2).

Dengan begitu, Indonesia bisa belajar dari kecelakaan kerja yang sudah terjadi dan diharapkan ke depannya tidak terjadi lagi. Menurutnya, komisi berupaya melakukan penyempurnaan dengan adanya pemberhentian sementara dan evaluasi pada proyek infrastruktur jalan layang. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah memutuskan adanya penghentian sementara pekerjaan infrastruktur terutama jalan layang selama tiga pekan.

Penghentian sementara ini merupakan instruksi melalui surat yang ditandatangani Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Surat tersebut yang menjadi dasar secara administrasi dilakukannya pemberhentian sementara.

Ada delapan kriteria yang sudah dibuat Komite Keselamatan Konstruksi untuk dijadikan acuan penghentian proyek. Nantinya, semua proyek infrastruktur yang masuk kriteria tersebut akan diberhentikan sementara. Sedangkan jika perusahaan telah memenuhi kriteria yang dianggap sesuai maka pekerjaan akan disetujui dan dapat dilanjutkan.

Syarief yang juga adalah Dirjen Bina Konstruksi menegaskan kegagalan konstruksi bukan karena proyek yang terburu-buru. Selama ini telah banyak proyek yang dikerjakan, banyak grider yang sudah terpasang, dan pier head yang sudah dicor. "Itu kan semua menandakan bahwa sesungguhnya ini hanya persoalan sangat kecil yang mungkin tidak terdeteksi pada saat itu," ujar dia.

Menurutnya, hal yang menjadi perhatian yakni ketelitian terhadap tahapan-tahapan proyek termasuk pengawas. "Pengawas itu harus tetap dalam kondisi fit walaupun itu dilakukan tengah malam," kata dia.

Sebelumnya pada Selasa (20/2), para pekerja di tol Becakayu (Bekasi Cawang Kampung Melayu) menjadi korban robohnya tiang jalan layang saat dilakukan pengecoran. Sebanyak tujuh pekerja tertimpa reruntuhan dan mengalami luka-luka.

photo
Suasana kondisi tiang girder proyek pembangunan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang ambruk di Jalan DI Panjaitan, Jakarta, Selasa (20/2).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA