Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Habib Riziek, Iberia, Syekh Yusuf: Kisah Pengasingan Ulama

Rabu 21 Feb 2018 13:55 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an.

Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an.

Foto: Gahetna.nl
Banyak Sultan dan ulama diasingkan ke berbagai tempat yang jauh dan asing.

Oleh: Muhammad Subarkah*

Semenjak penjajah Belanda tiba di Indonesia melaui ekspedisi laut yang dipimpin Cornelis De Hautman pada tahun 1496, para petualangan dari jazirah Iberia melihat bahwa ternyata mereka sudah kedahuluan Islam di sana. Sebelumnya, malah para pelaut Spanyol, di antaranya Magelhaens dan anak buahnya yang mengawali ekpedisi keliling dunia untuk mencari tempat asal muasal rempah-rempah, kaget bukan kepalang ketika sampai di kepulauan Maluku.

Pada saat itu, dalam catatan Tom Pires menyebutkan, ternyata para ‘Kaje’ (haji) yang pernah ke Makkah sudah dulu berada di kepulauan itu. Tak hanya menyatu dengan penduduk setempat, mereka pun sudah mendirikan kerajaan. Jejaknya adalah dari akar kata Maluku sekarang yang asalnya dari bahasa Arab ‘malik’, dan Maluku diartikan sebagai tanah para raja.

Catatan lain tentang tanah kepulauan Maluku juga ada dalam pengelana Muslim, Ibnu Batutah. Dia memang tidak sempat ke kepulauan ‘para raja’ itu, tapi dia tahu setelah sesampai dan singgah di negeri subur dan kaya di ujung Pulau Sumatra: Samudra Pasai.

Pada satu kesempatan berbincang santai dengan pakar politik-militer, DR Salim Said, dia bercerita betapa para pelaut Barat itu kemudian menjumpai kenyataan pahit. Mereka ternyata sampai ke tanah yang sudah penduduknya sudah beradab. Mereka punya sistem adat sendiri hingga sistem kekuasaan dan milter yang sendiri. Mereka bukan suku barbar dan berperadaban rendah. Mereka sudah punya budaya yang tinggi.

photo
Ilustrasi suasana kapal di pelabuhan Amstrerdam pada abad 17.
Imbas lainnya, karena mereka sudah memeluk agama Islam, mereka pun menjadi melawan ketika hendak dikuasai atau ditundukan dengan senjata. Para  tokohnya, di semua kesultanan yang membentang diseluruh wilayah Nusantara, menganggap orang lain yang hendak merampas dan kemudian menjajahnya adalah orang ‘kafir’. Mereka bisa menerima orang asing asal menghargai agama, sistem hidup, hingga kelangsungan budaya serta ekonomi warga dan penguasa setempat. Kalau mereka mau menyebarkan agama, lakukanlah dengan cara damai. Tidak dengan kesumat dan atas semangat yang kini disebut oleh media barat  dengan istilah sebagai gerakan ekstrimis-fundamentalis:  ‘Gold, Golry, and Gospel' (emas, kejayaan, dan penyebaran agama).

Namun mereka tak peduli etika. Mereka mainkan kerajaan yang disinggahinya sekaligus membelah penduduknya agar gampang dikuasai. Kerajaan Maluku misalnya,  mereka pecah belah. Kekuasaan dan kuatan kolonial dari semenanjung Iberia, termasuk Inggris, sibuk berebut di sana.

Salah satu jejaknya itu ada di Kesulatanan Tidore dan Ternate. Semua bisa lihat apa yang terjadi, bangun dan jatuhnya hingga keemasannya Sultan Nuku. Bagaimana perebutan pulau Ambon dan pulau-pulau yang ada di sekitar Maluku. Semua berlangsung keras, beringas, sekaligus culas.

Di kepulauan lain juga sama. Di Jawa dan Sumatra contohnya, semua hal itu telah terjadi. Pulau Jawa yang disebut sebagau pulau beras (Jawa Dwipa) misalanya,  mereka merasa terpikat dengan tingkat kesuburan tanahnya. Catatan Raffles menyatakan bila Pulau Jawa, dari ketinggian gunung berapinya hingga sungai, lembah, dan lautnya semua penuh air, tumbuhan, dan bahan makanan. Pulau ini baik surga terhampar, hijau dan segar.

photo
Semenanjung Iberia.
Juga di Sumatra para petualang Ibera ini mereka tergiur dengan kekayaan pulau emas (Swarnadwipa) ini. Mereka teringat apa yang terjadi di suku Inca dan Maya, di mana mereka bisa merampok kerajaannya dan mengangkut semua emas serta seluruh kekayaannya.

Sayangnya, usaha 'merampok' itu tak gampang dilakukan. Suku Jawa, Sulawesi, Sumatra, dan Kalimantan, hingga Maluku itu dikuasai oleh penguasa Islam yang semenjak dahulu di timur Tengah, telah menjadi seteru abadinya, bahkan memicu dengan konflik senjata dengan apa yang disebut perang Salib.

Aljasi, mereka kemudian bertindak drastis dan keras menghadapi Sultan dan para tokoh ulama. Mereka pun pecah dalam konfik bersenjata sebagai awal dari penguasaan sekaligus juga datangnya perlawanan.

Maka di Jawa, di sebuah kerajaan Mataram muncul banyak sekali sosok melawan orang yang menjadi penjajah asal Semenanjung Ibera ini. Mereka melawan kekuatan mereka di mana akhirnya menumpukan pada kekuatan ajaran agama yang berpusat di Makkah, dan tentu saja ada campur tangan Turki Utsmani.

Maka, lihat saja contoh awal mula perlawanan kepada Belanda di awal penyerbuan Batavia atau pada awal kerajaan Mataram yang kala itu di bawah kekuasan Raja Sultan Agung pada awal abad 1600-an. Semua berawal dari sebuah pengakuan dan ijazah (surat) dari seorang ulama di Makkah. Bahkan untuk kasus Mataram Surakarta, surat itu teseber di berbagai masjid beberapa hari menjelang datangnya bulan Ramadhan di dekade akhir tahun 1700-an.

Konflik dan perlawanan mau tidak mau terjadi. Pihak Islam pun kokoh melawan. Banyak sekali Sultan dan ulama yang kalah dan diasingkan atau dibuang ke berbagai tempat yang jauh, bahkan tanah luar negara (asing). Ini bisa berbentuk Raja, Pangeran, hingga ulama. Mulai dari sultan yang ada di kepulauan Maluku, Jawa, Sulawesi, Sumbawa, hingga Sumatra.

Dalam kasus ini misalnya ada contoh yakni Pangeran Diponegoro (dan juga banyak Sultan Yogyakarta lainnya), Kyai Maja, Syekh Yusuf (Sulawesi), para kyai Banten, Para Kyai di Pantura Jawa, Iman Bonjol, Cut Nyak Dhien, atau para ulama dan penguasa di Sumatra dan Kalimantan, hingga para raja dan tuan guru di Sumbawa lainnya.

                                                                      

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA