Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Friday, 21 Rajab 1442 / 05 March 2021

Mimpi Khadijah dan Pertemuan dengan Rasulullah

Rabu 07 Feb 2018 15:07 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

Foto: saharamet.org
Khadijah begitu terkesan dengan kepribadian Rasulullah.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Buku Khadijah: The True Love Story of Muhammad mengisahkan awal pertemuan Khadijah dan Rasulullah dalam urusan bisnis. Saat itu,  Muhammad belum diutus sebagai seorang nabi dan rasul.

Suatu hari, Khadijah mendengar kabar tentang pemuda yang sangat terpercaya di kalangan Arab bernama Muhammad. Tertarik menjadikan pemuda itu karyawannya, Khadijah pun memanggilnya.

"Saya memanggil Anda berdasarkan apa yang kudengar dari orang-orang tentang perkataan Anda yang jujur, integritas Anda yang terpercaya, dan akhlak Anda yang mulia. Saya memilih Anda untuk menangani urusan-urusan perdagangan dan akan saya bayar Anda dua kali lipat dari apa yang biasa kuberikan kepada selain Anda,” ujar Khadijah kepada Rasulullah. Muhammad pun menerima tawaran Khadijah tersebut dengan senang hati.

Khadijah pun mengirim Muhammad sebagai pemimpin kafilah dagang ke negeri Syam. Seorang budak kepercayaan Khadijah bernama Maysarah ikut serta dalam kafilah tersebut.

Dalam perjalanan, seorang rahib Yahudi yang dikenal memiliki wawasan agama yang luas, Nestora, bertanya pada Maysarah, siapa gerangan pemimpin kafilah dagang yang ikut serta di dalamnya. Maysarah pun mengabarkan tentang reputasi Rasulullah yang dikenal jujur dan cerdas. Nestora kemudian mengatakan, orang tersebut merupakan bakal nabi yang diutus Allah.

Segala pengalaman Maysarah dalam mengikuti kafilah dagang Rasulullah pun dikabarkan kepada Khadijah. Maysarah bahkan mengatakan, melihat dua malaikat membawa awan di atas kepala Nabi untuk melindunginya dari terik matahari.

Semakin hari, Khadijah semakin terkesan dengan kepribadian Rasulullah. Ia pun berkeinginan untuk membangun rumah tangga bersama Muhammad yang kala itu belum diangkat menjadi rasul Allah. Tapi, saat itu Khadijah dilanda keraguan mengingat ia seorang janda sementara Muhammad seorang pemuda.

Dalam Great Women of Islam dikisahkan, suatu malam Khadijah bermimpi matahari turun dari langit menuju halaman rumahnya. Matahari tersebut kemudian bersinar terang memancarkan cahaya dari dalam rumah. Saat terbangun di pagi hari, Khadijah merasa penasaran atas mimpi itu.

Ia pun menemui sepupunya Waraqah bin Naufal, seorang tunanetra yang terkenal karena keahliannya dalam menafsirkan mimpi. Mendengarnya, Waraqah tersenyum tenang dan meminta Khadijah untuk tidak khawatir. Pasalnya, mimpi tersebut menunjukkan hal positif dalam kehidupan Khadijah.

Matahari dalam mimpi menunjukkan bahwa nabi yang penuh kedamaian dan keberkahan yang kedatangannya telah diramalkan di dalam Taurat dan Injil akan memberi cahaya di dalam rumahnya. Nabi tersebut akan membawa rahmat dan kebahagiaan dalam kehidupan Khadijah.

Pascamengalami mimpi tersebut, mantaplah tekad Khadijah untuk menikah dengan Muhammad. Ia pun kemudian mengajukan pinangan kepadanya. Tersambut, Muhammad menerimanya dan keduanya pun menikah. Saat itu, usia Khadijah 40 tahun sementara Rasulullah berusia 25 tahun. Tapi, perbedaan usia tak menghambat pernikahan tersebut. Keduannya hidup bahagia. Bisnis Khadijah makin jaya setelah menikah dengan Rasulullah.

Selain bisnis yang semakin maju, seluruh putra-putri Nabi pun lahir dari rahim Khadijah, kecuali Ibrahim. Putra-putri Nabi bersama Khadijah berjumlah enam orang. Pertama dua putra, Qasim dan Abdullah, kemudian diikuti anak-anak perempuan, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Tapi, baru berusia dua tahun, Qasim dan Abdullah wafat sehingga membawa kesedihan mendalam bagi Rasulullah dan Khadijah.

Pernikahan bersama Rasulullah menjadi yang ketiga dan terakhir bagi Khadijah. Rasulullah pun tak pernah menikah lagi dengan wanita lain sepanjang hidup Khadijah. Saat Muhammad diutus sebagai rasul, Khadijah menjadi orang pertama yang mengakui kenabiannya. Khadijah selalu mendampingi Rasulullah saat diterpa kesulitan ketika masyarakat Mekkah menentang dakwahnya. Kahdijah bahkan rela memberikan hartanya untuk dakwah menjunjung agama Allah.

(Baca: Mengenal Sosok Perempuan Agung)

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA